Bulango, Pusaka Ekonomi Galogandang yang Kini Mulai Tenggelam

Tek Gamai, salah satu pengrajin bulango di Galogandang III Koto, Kabupaten Tanah Datar. Kini tak lagi banyak generasi muda yang mau melestarikan kerajinan bulango ini. [Foto: Scientia/Afrizaldi Noerdin]
Tek Gamai, salah satu pengrajin bulango di Galogandang III Koto, Kabupaten Tanah Datar. Kini tak lagi banyak generasi muda yang mau melestarikan kerajinan bulango ini. [Foto: Scientia/Afrizaldi Noerdin]
Rambatan, Scientia – Bagi masyarakat Kabupaten Tanah Datar, bulango punya sejarah panjang. Pamornya mengantarkan nama Galogandang ke gelanggang rantau sebagai daerah kaya karya seni gerabah nan elok rupa dan kualitasnya. Inilah kerajinan tradisional yang sempat memperkokoh ekonomi masyarakat beberapa generasi. Tapi kini eksistensinya mulai tenggelam.

Tanah urang dipijak, tanah awak dijujuang.

Demikian pameo tentang penjual kerajinan tanah liat bulango atau kadang disebut taranang. Benar saja, gerabah aneka ukuran ini memang dijunjung (diangkat di kepala) dari satu kampung ke kampung lainnnya. Sekali jalan, para penjual bulango bisa mengabiskan waktu berhari-hari hingga kembali pulang ke kampungnya.

Galogandang adalah sebuah desa yang sekarang menjadi jorong di Nagari III Koto Kecamatan Rambatan, Kabupaten Tanah Datar. Meski tak sesemarak di masa lampu, saat ini warga jorong masih mempertahankan kerajinan tersebut.

Ramailis adalah salah satu pengrajin bulango. Saat berbicang dengan Scientia di bengkel produksi gerabah miliknya, Rabu (3/2) lalu, wanita yang biasa dipanggil Tek Gamai ini mengatakan bahwa ia bertekad mempertahankan usaha kerajinan tanah liat yang telah diwariskan turun temurun oleh leluhur orang Galogandang tersebut.

Baca:

“Sehebat dan sejauh manapun orang Galogandang merantau, dia pasti ingat dan membawa oleh-oleh berupa kerajinan bulango ini bila balik ke perantauan. Sebab hampir seluruh orang orang sukses di kampung ini ‘dibesarkan’ dengan kerajinan bulango,” kata Tek Gamai mengisahkan.

Hanya saja zaman memang tak seperti dahulu kala. Modernitas hanya menyisakan pengrajin ‘partai tua’. Nyaris tak ada generasi muda yang tertarik melanjutkan usaha ini.

“Yang muda tidak tertarik dan cenderung mengadu nasib di perantauan. Padahal pasar untuk usaha ini masih terbuka lebar,” tambah Tek Gamai.

Proses pembakaran bulango dari tanah liat menjadi gerabah artistik. [Foto: Scientia/Afrizaldi Noerdin]
Proses pembakaran bulango dari tanah liat menjadi gerabah artistik. Dengan pembakaran secara tradisional, kuantitas bulango sangat ditentukan oleh cuaca.[Foto: Scientia/Afrizaldi Noerdin]
Dari penuturannya, Tek Gamai mampu memproduksi 300 hingga 400 buah belanga setiap bulannya. Dari jumlah itu ia mampu memperoleh penghasilan bersih sebesar Rp1,4 juta. Uang inilah yang kemudian ia gunakan untuk menafkahi keluarganya.

“Itu kalau tidak ada kendala. Sebab prosesnya membutuhkan pembakaran,” tambahnya.

Ia mengatakan, dengan kondisi ekonomi saat ini ia sangat membuthkan bantuan pemerintah. Keterbatasan alat-alat produksi seperti mesin pengaduk dan roller menjadi salah satu alasan melambatnya kapasitas produksi.

“Kami bisa pacu produksi dengan mesin. Tapi belum satupun bantuan pemerintah yang kami terima,” keluh Tek Gamai. (Afrizaldi Noerdin)


Posted

in

by

Tags:

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *