Dendam Masa Silam

Cerpen: Nurillah Achmad

Mata saya begitu pekat sebab semalam suntuk duduk di depan tungku. Asap masih menguar ketika embu* merambati lincak dapur. Tulang punggungnya melengkung seakan menyimpan ngilu bertahun-tahun. Di halaman depan yang menyisakan genangan lumpur bekas air hujan, orang-orang berkoar perihal kehadiran andêng* yang dihubungkan dengan makam Apsari.

Di sini, di lereng Raung ini, meski udara dingin menggigilkan tulang, watak perempuan akan sepanas neraka apabila terdapat sesuatu yang patut digunjingkan. Tanpa tedeng aling-aling. Begitulah mereka membicarakan aib siapa saja. Bahkan tak jarang farji perempuan menjadi bahan olokan yang paling mudah mendatangkan gelak tawa.

Mereka tak lagi peduli akan asap putih yang mengepul dari tungku tanah liat. Mereka tak lagi memikirkan panci peot yang menjerang air, atau ranting-ranting kayu yang berubah wujud jadi abu di sudut dapur masing-masing. Unggunan bara api tungku seolah tiada berarti daripada berkumpul bersama perempuan yang lain.

Apalagi pagi ini, langit dihiasi riap dua andêng yang melengkung lantas menelusup ke balik rimbun bambu. Mereka menerka-nerka, mengapa dua andêng yang menyinggahi sumber air Bhuttong? Tak biasanya sumber air itu diteguk dua pelangi secara bersamaan. Selarik kabar menguar lantas menjamah mulut bertemu mulut. Mereka berkesimpulan jika makam Apsari yang ditemukan terbongkar penyebabnya.

Saya tak berani merangsek pada mereka-mereka yang berkerumun. Dada ini lebih dulu sesak jauh sebelum peristiwa muram itu menikam kampung. Namun, panas kuping mendengar pembicaraan, nyata-nyata menyuluk  kemampuan bertahan. Bergetar ketika saya menaruh sepiring ketela di atas meja kecil yang kayunya mulai lapuk dimakan usia.
“Dendam Embu’ sudah terbalas. Baiknya tak usah diteruskan lagi.”
Perempuan itu tersentak. Terjengkat ia mendapati ucapan anaknya sendiri. Saya bisa menangkap raut muka tak percaya ketika embu’ membalikkan badan lalu menatap saya lekat-lekat.
“Segala bala dan celaka akan kembali pada pelakunya, Bu’. Biarlah peristiwa lalu yang saban waktu melahirkan lara itu hanya mencelakai kita. Bukan orang lain.”
“Kau membenciku?”
Saya menggeleng kuat. Kicau orang-orang kian gaduh menyebut bulu-bulu kemilau tercecer pada badan Apsari.
“Utang nyawa tak mesti dibayar nyawa. Ulah buruk tak harus dilunasi perangai buruk. Dan ilmu hitam tak mesti dibalas hitam pula. Embu’ paham kalau hati memelihara dendam, maka segumpal daging itu akan terus menyebut pembalasan.”
“Kau tak panas hati mendapati bapak dan adikmu mati lantaran tenung Jumari yang kalah dalam pemilihan kalebun*”
“Apa dendam mesti dituntaskan, Bu’?”

***

Luka itu akan terus memerah-basah, Rindi. Tak akan bersudah dan akan pecah ketika waktu mengusung kesempatan yang aku tunggu-tunggu. Bukankah waktu itu kau meraung-raung melihat bapak dan adikmu mati bersamaan musabab santet tengah malam? Bukankah peristiwa kelam itu masih mengucur, dan engkau tak perlu berpura-pura kuat melakoni hidup ini?
“Sebab bapak dan adikmu adalah kehormatan. Sejengkal saja mereka disentuh paksa, maka nyawa taruhannya.”

***

Daun-daun rumbia, sabut kelapa dan ranting-ranting kayu menjunjung di samping tungku. Mata embu’ amat berbinar. Sesekali ia meniup potongan bambu kecil, menjaga perapian. Sedari tadi ia berjaga di sana padahal sebentar lagi bertaruh nyawa. Samar-samar saya menangkap senyum yang meletup-letup dari kedua bibir.
“Jagalah tungku ini, Rindi! Jangan sampai ia padam. Bilamana kau dapati telur yang aku rendam dengan air kembang memperlihatkan retak, cepat-cepat kau suguhi api agar kian membara.”
“Adakah cara lain untuk balas dendam?”
“Ini yang terakhir. Kau tak perlu gundah.”
“Apakah mayat tak layak dikasihi meski ruh terpisah dari raga?”
“Masih untung aku menunggu kematian Apsari dan Maryam. Lagi pula, aku tak menyantet Maryam. Ia mati sebab tak kuat menahan aib lantaran makam anaknya dibongkar.”

Saya merasa kembali diketuk paksa menjaga perapian tungku. Asap masih mengembara manakala embu’ memulai mantra. Di luar, gerimis. Angin berkesiur lamban ketika separuh tubuh embu’ mulai ditumbuhi bulu-bulu halus. Dari lubang duburnya, muncul ekor sepanjang semeter. Ekor itu melengkung ke atas seiring embu’ mengibas-ngibaskannya di dekat tungku. Jemari tangan dan kakinya mengeluarkan kuku meruncing. Tajam dan menghitam begitulah yang tampak di penglihatan.

Kendati bagian atas masih tampak manusia, wajah embu’ ditumbuhi bulu-bulu yang tak kalah kemilau. Taringnya juga terlihat menyeramkan. Sekilas ia menoleh ke arah saya dan tak lama kemudian meloncat ke arah jendela. Saya kian kuat meniup tungku. Meski tak sanggup menahan laju rintik air mata, saya berusaha agar bara api tak meredup. Anjing hitam pincang yang saya rawat usai dipentung marbot masjid, menatap saya nanar. Barangkali ia memiliki pemikiran yang sama bahwa dendam tak mesti dituntaskan.

***

Gerimis berubah rintik manakala ghedungan* mencakar makam Maryam. Tanah anyar yang dibasahi air langit memudahkan penggalian. Makhluk jadi-jadian itu tak butuh waktu lama untuk sampai ke dhindhing areh*. Sewaktu memindahkan sekat kubur, tiba-tiba seekor harimau menyalang. Sebulan terakhir orang-orang ramai mengisahkan pertemuan mereka dengan harimau hutan yang turun mencari makan.

Ghedungan itu gentar. Harimau di depannya tampak sangar. Namun, ia ingat kalau dirinya juga bisa mengaum. Ia kibas-kibaskan ekornya lalu mengaum keras nan panjang. Harimau ketakutan. Tak menyangka kalau makhluk di depannya sangat menyeramkan. Harimau lantas berlari ke arah semak belukar dan menghilang. Ghedungan itu tertawa kemudian meneruskan pekerjaannya yang sempat berhenti.

Maryam yang baru dikubur beberapa jam lalu, ia keluarkan dari alam kubur dan ditarik ke arah kebun tebu. Rasa puas bertalian bersama dendam menyelinap dalam benak. Sebentar lagi ia akan mendapati Jumari jumpalitan gegara mayat istrinya disantap ghedungan sedangkan tiga hari yang lalu, jenazah anaknya tinggal separuh. Ia yakin, luka Jumari lebih perih dari luka batin yang ia alami.

Baru melepas kafan yang membaluti tubuh Maryam, tiba-tiba seberkas cahaya melesat lantas menyerangnya bertubi-tubi. Sial sungguh sial. Rupanya Jumari mengirim ilmu langit sebagai perlawanan. Ia kewalahan mendapati serbuan api yang panasnya menggugurkan bulu-bulu tubuh. Ia berlari ke semak-semak tebu, tapi api itu terus mengejar. Ia terus berlari ke arah selatan, api itu kian gesit menyerang. Ghedungan itu kepanasan. Ia kian kencang berlari sampai akhirnya tersudut di bibir kali. Di antara derasnya arus yang menghantam bebatu, samar-samar ia menangkap teriakan orang-orang di kebun tebu.

***

Ranting-ranting dan sabut kelapa yang diambil embu’ masih basah. Susah menghasilkan bara api. Sekuat apa saya memonyongkan mulut meniup tungku, api tak kunjung membesar bahkan cenderung redup. Telur yang ditanak bersama air kembang juga retak. Saya kian gelagapan. Uap dan asap tak seberapa. Saya kelimpungan mencari kain hendak membuat api darinya. Celaka sungguh celaka. Asap kian menipis seiring kabut di pelupuk mata mulai menelungkup. Burung hantu bersiul tiga kali.

***

Pada matahari yang memulai perputaran, orang-orang mengarak sosok yang menyergap mayat Maryam. Saya tak kuasa menengok kerumunan. Tak tega melihat embu’ dipasung dan dihakimi massa. Saya tahu segala macam caci dan hina akan menghampiri rumah ini. Saya tak peduli. Saya hanya menginginkan tubuh embu’. Biarkan saya yang melepas mantra agar ia kembali utuh jadi manusia. Biar saya yang menguburnya meski yang lain tak berkenan. Namun, saya hanya mampu tersedu-sedu. Saya tak sanggup memandang arakan di ujung jalan yang sebentar lagi lewati pekarangan.

Di tengah-tengah tangis yang tak kunjung reda, tiba-tiba, jendela dapur tertiup angin kencang. Amat kencang. Saya terjengkang mendapati ghedungan muncul dari sana. Ghedungan itu mengibas-ngibaskan ekornya dan tak lama kemudian berubah wujud jadi manusia. Tertatih-tatih embu’ berjalan ke arah lincak. Tubuhnya memerah seperti kena bakar. Saya menyambutnya dengan sedu sedan. Embu’ memeluk sangat erat.
“Bagaimana Embu’ selamat? Bukankah Embu’ diarak?”
Napas embu’ tersengal-sengal. Saya memburunya dengan tanya penasaran.
“Siapa yang mereka arak, Bu’? Ranting kayu basah akan hujan. Saya betul-betul sulit menghadirkan bara. Tak ada api dalam tungku. Telur pun pecah. Siapa yang diarak, Bu’?”
Embu’ menggeleng kuat. “Aku hanya berhasil menarik tubuh Maryam. Selebihnya menyelamatkan diri dengan mencebur ke sungai. Aku belum memakan tubuh Maryam.”

Saya dan embu’ saling memandang. Dari jendela, kami mendengar arakan orang-orang lewati halaman. Ada Ra’is, Burhan juga Randu di barisan paling belakang. Saya terperangah mendapati seekor harimau disalib pada sepotong bambu. Tubuhnya meneteskan banyak darah. Embu’ tak kalah terperanjat mendengar Ra’is berteriak ke arah kami.
“Buk Kalebun. Buk Kalebun. Harimau berhasil menggondol kemaluan Maryam.”
Embu’ tercekat. Matanya menatap saya lekat-lekat. “Aku betul-betul tak menyentuhnya, Rindi. Sungguh.”

Embu’ berkata dengan suara gemetar. Saya menangkap rasa penasaran dari kedua matanya. Saya hendak bertanya, siapa yang ia lihat di sana. Namun, mata saya terburu mendelik ketika anjing pincang yang saya pelihara usai dipukul marbot masjid, tiba-tiba muncul dari balik pintu dapur, dan menaruh seonggok daging yang ia gigit. Kami terperanjat. Potongan daging itu bagian dari tubuh perempuan.

Catatan:
*Embu               = Ibu
*Andêng            = Pelangi
*Kalebun           = Kepala Desa
*Ghedungan      = Makhluk jadi-jadian yang separuh tubuhnya berwujud manusia, sedang                            separuhnya lagi binatang
*Dhindhing areh = Papan kayu atau bambu yang digunakan untuk menutupi liang lahad                                 untuk menyangga tanah tidak mengenai jenazah

Cerpen ini merupakan Pemenang Harapan1 Lomba Cerpen Scientia 2020

Biodata Penulis
Nurillah Achmad menyantri di TMI Putri Al-Amien Prenduan, Sumenep sekaligus alumni Fakultas Hukum Universitas Jember. Emerging Writer Ubud Writers & Readers Festival 2019. Menerbitkan kumpulan cerpen Cara Bodoh Menertawakan Tuhan (Buku Inti, 2020). Saat ini, tinggal di Jember, Jawa Timur.


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *