“Dicibir” BPOM dan IDI, Ketahuilah Ini Fakta dan Keunggulan Vaksin Nusantara

Ilustrasi vaksin corona. Vaksin Nusantara, vaksin corona yang dikembangkan Terawan Agus Putranto untuk vaksinasi Covid-19 terus tuai kontroversi. /Pixabay

Jakarta, Scientia – Pengembangan Vaksin Nusantara sebagai salah satu vaksin corona, yang dikembangkan para peneliti Indonesia untuk vaksinasi Covid-19, kerap mendapatkan respons pro dan kontra dari berbagai kalangan.

Dalam pengembangannya, vaksin Nusantara pun mendapatkan dukungan dari DPR untuk segera digunakan dalam vaksinasi Covid-19 sebagai vaksin corona, tetapi masih “dicibir” atau diragukan oleh BPOM dan IDI.

Lalu, apa saja hal-hal yang telah diketahui tentang vaksin corona tersebut? Berikut rangkum 5 hal tentang Vaksin Nusantara yang kita ketahui sejauh ini, seperti dilansir dari pikiranrakyat.com,:

  1. Dikembangkan Mantan Menteri Kesehatan

Mantan Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto diam-diam ikut mengembangkan vaksin corona untuk vaksinasi Covid-19 berupa Vaksin Nusantara setelah lengser dari jabatannya.

Vaksin Nusantara ini pun dikembangkan oleh tim peneliti dari PT. Rama Emerald Multi Sukses (Rama Pharma) bersama AIVITA Biomedical asal Ameria Serikat dan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.

Kerja sama pengembangan vaksin corona ini pun telah dituangkan dalam keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/2646/2020 tentang Tim Penelitian Uji Klinis Vaksin Sel Denditrik SARS Cov-2 pada tanggal 12 Oktober 2020 lalu.

 

  1. Diklaim Efektif untuk Segala Usia dan Komorbid

Vaksin Nusantara diklaim bisa diberikan dalam vaksinasi Covid-19 untuk segala usia, mulai dari anak-anak hingga usia di atas 60 tahun.

Tidak hanya itu, Vaksin Nusantara juga diklaim bisa diberikan sebagai vaksin corona untuk orang yang memiliki penyakit penyerta alias komorbid, termasuk kanker.

 

  1. Dikembangkan Pakai Teknologi Sel Dendritik

Selama ini, teknologi sel dendritik masih dilakukan untuk pengobatan kanker, melalui teknik rekombinan dengan mengambil sel. Kemudian, dikembangkan di luar tubuh sehingga dengan teknik tersebut dapat dihasilkan vaksin corona.

Dalam dunia kedokteran, sel dendritik merupakan sel imun yang menjadi bagian dari sistem imun. Proses pengembangbiakan vaksin corona dengan sel dendritik pun akan membentuk antigen khusus, kemudian membentuk antibodi.

Metode ini hanya pembibitan sel dengan tujuan memproduksi antibodi di dalam tubuh, dengan proses yang dapat ditunggu sekitar tiga hari. Kemudian setelah itu, sel dendritik disuntikkan kembali ke dalam tubuh.

Tujuan pemberian vaksin corona ini, untuk merangsang respons imun spesifik terhadap antigen spike dari SARS CoV-2.

Sel dendritik yang telah mengenali antigen akan diinjeksi ke dalam tubuh kembali, dan akan memicu sel-sel imun lain untuk membentuk sistem pertahanan memori terhadap virus corona.

 

  1. Diklaim Mampu Membentuk Antibodi Covid-19 Seumur Hidup

Vaksin Nusantara diklaim menghasilkan antibodi Covid-19 seumur hidup, karena menggunakan sistem pembentukan sel dendritik.

Cara kerja vaksin corona tersebut adalah dengan mengambil sel dendritik dari tubuh pasien, kemudian digabungkan dengan antigen SARS-CoV-2, lalu diinkubasi.

Setelah diinkubasi, sel dendritik yang sudah menjadi vaksin corona tersebut kemudian diinjeksikan kembali ke dalam tubuh.

Akan tetapi, klaim itu sangat diragukan karena para ahli dunia bahkan belum bisa menjawab berapa lama antibodi yang dihasilkan vaksin corona produksi Moderna, Sinovac, AstraZeneca maupun Pfizer dapat bertahan.

 

  1. Tak Lolos Penilaian BPOM

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) belum meloloskan Vaksin Nusantara sebagai vaksin corona dalam penelitian karena terganjal persetujuan pelaksanaan Uji Klinik (PPUK).

BPOM menilai dokumen dari cara pembuatan obat yang baik (CPOB) hingga hasil uji klinis fase I Vaksin Nusantara masih belum sesuai kaidah penelitian.

Syarat yang belum terpenuhi di antaranya adalah cara uji klinik yang baik (Good Clinical Practical), Proof of Concept, Good Laboratory Practice, dan cara pembuatan obat yang baik (Good Manufacturing Practice/GMP).

Selain itu, BPOM juga menuturkan bahwa Proof of Concept dari Vaksin Nusantara juga belum terpenuhi, dan antigen yang digunakan pada vaksin corona tersebut juga tidak memenuhi pharmaceutical grade.

Dari uji klinis fase I terkait keamanan, efektivitas, atau kemampuan potensi imunogenitas untuk meningkatkan antibodi pun masih belum meyakinkan.

Oleh karena itu, tim peneliti perlu melakukan perbaikan dan menyampaikan perbaikan kepada BPOM sebagaimana hasil peninjauan yang diberikan kepada tim peneliti Vaksin Nusantara.

Sampai saat ini, Vaksin Nusantara pun baru sampai di uji klinis fase II, dan belum bisa memasuki uji klinis fase III.

 

  1. Diklaim Bisa Mengalahkan Varian Delta

Terawan Agus Putranto mengatakan bahwa varian Delta Covid-19 dari India bisa dikalahkan oleh Vaksin Nusantara yang saat ini sedang dia kembangkan.

Menurutnya, tak perlu waktu lama agar Vaksin Nusantara yang tengah dikembangkan bisa mengalahkan varian Delta Covid-19.

Dalam penjelasannya, Terawan Agus Putranto menyebutkan timnya sedang meracik vaksin corona berbasis sel dendritik untuk mengalahkan varian Delta Covid-19.

Selain varian Delta, dia mengatakan tim peneliti juga telah memesan antigen untuk dua varian baru corona lainnya yang masuk ke Indonesia, yakni varian Inggris dan Afrika Selatan. (***)


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *