
Padang, Scientia- Rektor Universitas Airlangga, M. Nasih mengatakan lambatnya proses izin produksi dan izin edar obat Covid-19 asli Indonesia, karena adanya ego sektoral dari beberapa pihak. Hal inilah yang menjadikan proses pengeluaran izin menjadi panjang.
Berdasarkan Hal tersebut, Nasih meminta kepada seluruh pihak mendukung agar temuan kombinasi obat Covid-19 oleh tim gabungan Unair, BIN, TNI AD dan BPOM agar cepat mendapatkan izin produksi dan izin edar. Ia juga berkeyakinan obat tersebut menjadi obat penyembuh Covid-19 pertama didunia.
“Untuk itu TNI, Polri, Ikatan dokter Indonesia, Ikatan Apoteker Indonesia, Kimia farma, dan Komite Penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi harus membuang ego sektoral mereka,” ujar Nasih saat konferensi pers di mabes Jakarta. Sabtu, (15/8)
Menurut Nasih, BPOM menganggap obat ini sesuatu yang baru, meski obat ini berasal dari kombinasi berbagai macam obat. Tentu, inilah yang diharapkan akan menjadi obat baru dan menjadi obat Covid-19 pertama di dunia.
“Kita mengharapkan ini akan menjadi obat Covid-19 pertama di dunia,” jelasnya.
Sementara, Pihaknnya menganggap obat inilah yang dijadikan patut rujukan, meski di banyak negara, berbagai macam obat tunggal telah diberikan kepada pasien Covid-19.(YRP)

Tinggalkan Balasan