Eksistensi Manusia

Fitra Insani

Penulis Buku Eksistensi Manusia

Bengkulu, Scientia.id—Bicara eksistensi manusia memang sangat menarik dan belum ada titik temu dari para ahli, baik secara pengertian maupun secara istilah.

Berangkat dari pemahaman filsuf Immanuel Kant, menyebutkan dua tahap pengenalan diri manunsia. Tahab sensibility berkenaan dengan kesan inderawi yang ditangkap oleh manusia.

Selanjutnya tahab understanding atau pemahaman yang darinya keputusan-keputusan kesan inderawi diambil.

Bicara manusia pada tahap pertama, manusia hanya mengikuti nalurinya, dalam artian pertemuan manusia dengan lingkungannya yang hanya sepintas lalu. Sedangkan tahap kedua telah mensyaratkan manusia untuk bisa membedakan dirinya dari benda di sekitarnya, tanpa harus terlebih dahulu mengenal perbedaan sebutan antara dirinya dengan benda. Dengan begitu, manusia mulai menyadari eksistensinya dan perlahan menghayati esensi ke-diri-annya.

 

Hal menarik terkait Eksistensi Manusia, terungkap dalam diskusi yang diadakan media Scientia.id Bengkulu, yang bahas bersama Fitra Insani yang juga penulis buku “Eksistensi Manusia”.

“Kehidupan peradaban manusia, menjadi tujuan utama dalam menjalani kehidupan”, ungkap Fitra.

Diskusi akan lebih menarik jika berbicara perihal pemahaman antroposentris, theosentris dan lain-lain. Secara substansi Fitrah mengungkapkan bahwa, pemahaman spritualis bisa dimiliki oleh semua orang, mengingat juga kerapuhan peradaban kemajuan manusia dimulai dari lingkup terkecil yaitu keluarga, bahkan kalau lebih disempitkan lagi terjadi pada individu sendiri.

 

Seharusnya untuk kemajuan itu dimulai dari komitmen untuk berbuat baik, kencenderungan terhadap untuk bersikap hanif atas keharusan universal itu harus ditopang oleh spritual.

 

Bicara kemanusiaan Fitrah Insani menambahkan bahwa, “Seluruh aktivitas kemanusiaan berangkat dari ketuhanan, sehingga bisa cenderung kepada kehanifan, sehingga eksistensi manusia ini sendiri bisa memenuhi “piranti” yang seharusnya cenderung pada kehanifan dengan konsep yang humanis, sehingga seluruh piranti yang ada dalam diri manusia bisa berfungsi dengan baik.

“Hal ini yang sangat ideal untuk membentuk eksistensi manusia itu sendiri” tutupnya. (Kris)


Posted

in

by

Tags:

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *