![Hasil Olahan Sabut Kosapa Dobrak Pasar Tiongkok. [foto : ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2022/03/IMG-20220315-WA0008.jpg)
Seperti di Negara China dan Eropa, Cocofiber digunakan sebagai bahan pembuatan jok mobil mewah, spring bed, dan bahkan untuk pembuatan kursi pesawat terbang. sedangkan Cocofeat digunakan untuk pengganti media tanam tanah serta diolah untuk pembuatan mebel, kertas kayu dan perabot mewah.
Pendiri pabrik sabut kelapa, Laksmana TNI (Purn) Hargianto mengatakan Cocofiber merupakan hasil olahan sabut kelapa berupa bulu-bulu, sedangkan Cocopeat berupa serbuk atau tepung. Kedua hasil olahan sabut ini sangat memberikan dampak positif terhadap masyarakat. Sebab, sabut kelapa yang biasanya terbuang percuma, kini menjadi ladang penghasilan bagi masyarakat.
Sehingganya, masyarakat berebut menjual sabut kelapa ke pabrik tersebut, karena berapapun banyak sabut yang dihantarkan langsung dibeli dengan harga yaitu rata – rata Rp15 ribu per kubik. Ada yang membawa dengan gerobak, becak, sepeda motor hingga mobil pick up.
Hargianto menyebutkan, pasar sabut kelapa ini masih terbuka lebar di dunia. Seperti halnya China yang membutuhkan 3.000 kontainer Cocofiber dan Cocopeat setiap tahunnya. Begitu juga juga denga Eropa yang membutuhkan 200 kontainer produksi sabut kelapa setahun.
“Belum lagi untuk kebutuhan dalam negeri, terutama untuk perusahaan pembuatan sofa mewah dan mebel berkualitas ekspor,” ujar Hargianto. Selasa pagi (15/3).
Menurutnya, Indonesia sendiri pun belum mampu memenuhi kebutuhan Cocofiber dan Cocopeat dunia. Dari hitungan tahun 2021, Indonesia hanya mampu memenuhi 3 persen kebutuhan produksi sabut kelapa dunia. Sisanya 97 persen dipasok oleh dua negara yaitu India dan Srilanka.
“Jadi berapa pun produksi sabut kelapa kita di Padang Pariaman ini akan terserap oleh pasar. Hanya saja, kita baru bisa memproduksi 50 ton Cocofiber per bulan dan 100 ton Cocopeat per bulan. Jika produksinya stabil, maka sangat membantu perekonomian masyarakat di Padang Pariaman, khususnya di sekitar pabrik,” kata Hargianto, yang didampingi Manager Pabrik Kosapa Ronny.
Karena begitu besarnya peluang usaha ini, Hargianto mengajak para perantau Minangkabau untuk ikut serta berinvestasi di bidang usaha ini.
“Nilai investasi yang diperlukan untuk pabrik sabut kelapa ini tidak besar, hanya sekitar Rp750 juta dan potensi bahan bakunya banyak sekali di Sumatera Barat,” ucap Hargianto yang sehari-hari adalah Wakil Ketua 1 LKAAM Sumbar.
Sementara itu, pada akhir Januari 2022 lalu, Kosapa telah mengekspor 35 kontainer cocofiber dan cocopeat ke Tiongkok, China. (Red)
Tinggalkan Balasan