Dari yang kuingat, terakhir kali kami bisa berkumpul untuk berbicara secara serius dan lengkap di meja makan adalah setahun yang lalu ketika kami mendadak harus berkumpul untuk berdiskusi soal Ibu dan keinginannya untuk mendaftarkan diri di salah satu platform media sosial yang tengah ramai, yaitu Instagram. Pertama kali mendengar keinginan Ibu itu, aku hanya tertawa namun tetap memberitahu kedua kakakku mengenai hal ini. Aku tidak mengira hal ini benar-benar menjadi bahasan yang serius untuk kedua kakakku.
“Ibu serius mau bikin akun Instagram?” tanya Kak Rama, kakak tertuaku. Dia masih berbalutkan jas kerjanya yang bewarna abu-abu. Rambutnya juga masih licin karena sisa-sisa minyak rambut kegemarannya.
Ibu menatap kami semua satu persatu dari balik kacamatanya yang melorot hingga hidung, kemudian tertawa.
“Kenapa kalian serius sekali? Ini bukan hal besar.”
Kak Citra menegakkan tubuhnya dan memasang ekspresi wajah yang datar. Ia memang selalu seperti itu. Ia dikaruniai cara berpikir yang menganggap segalanya adalah hal yang sangat penting.
“Sosial media bukan hal yang sepele, Bu. Itu tempatnya informasi palsu dan komentar-komentar jahat beredar. Lebih baik nggak usah Bu kalau memang nggak penting.”
Kak Citra melirikku.
“Apa?” balasku dan dia hanya mengangkat bahu.
“Bener kata Citra, Bu,” sahut Kak Rama menyetujui.
“Kita bisa liHat Rana sebagai contoh.”
Dan saat ini semua mata mendadak mengarah kepadaku.
“Apa?” balasku. “Aku nggak separah itu, kok.” Aku membela diri.
“Aduh, kalian ini!” Ibu mengetuk meja menghentikan tudingan searah dari kedua kakakku tersebut. Ibu mencopot kacamatanya lalu menaruhnya ke atas meja. Ia menyatukan kedua tangannya di atas meja. Melihat kami satu-persatu.
“Ibu bukan anak-anak. Tentu Ibu tahu bagaimana cara mengendalikan diri. Semuanya kembali ke masing-masih kita, Nak.”
Aku mengangguk-angguk dalam diam. Ibu benar. Semuanya memang pada dasarnya selalu kembali ke diri masing-masing.
“Aduh, walaupun sudah tua Ibu juga tetap pingin update lah,” kata Ibu lagi.
“Kalian ini kenapa malah jadi seperti orangtua? Sejak kapan Ibu jadi anak kalian?”
Kemudian kami semua tertawa, diam-diam bernapas lega. Saat itu, ibu baru saja pensiun dari pekerjaannya sebagai guru SMA. Ibu memutuskan untuk tetap tinggal sendiri di rumah walaupun Kak Rama dan Kak Citra bisa membawa ibu ke rumah mereka, tetapi ibu tidak berkata apa-apa. Ibu hanya memintaku untuk membuatkannya akun Instagram.
***
“Handphone Ibu sama kamu, Ran?” tanya Kak Rama, yang seperti tahun lalu, duduk di seberangku. Ia menanggalkan kopiah hitamnya dan menaruhnya di atas meja. Rambutnya kali ini tidak ia tata dengan minyak rambutnya. Aku mengangguk, mengangkat benda pipih itu ke udara.
“Simpan dulu sama kamu.”
“Ibu jadi main Instagram, Na?” tanya Kak Citra kali ini.
Kerudungnya sudah sangat kusut, tetapi wajahnya tak lebih kalah. Ekspresi seriusnya memang tidak terpasang kali ini, tetapi postur sempurnanya yang terus-terusan ia latih untuk pekerjaannya yang berakhir menjadi kebiasaan, masih tetap tidak luput darinya. Di kursi tempatnya duduk, punggungnya bersandar dengan tegap. Aku mengangguk.
“Jadi. Followers Ibu ribuan, loh,” ujarku.
Kak Rama dan Kak Citra mengerutkan dahinya, tidak percaya. Aku tidak bohong. Ibu memang memiliki followers yang banyak. Awalnya, aku sempat tidak percaya, tetapi setelah melihatnya langsung, aku tahu bahwa keputusan Ibu memang tidak pernah ia buat dengan main-main. Sebagaimana sifat kami yang juga selalu serius menanggapi segala hal yang ibu lakukan. Kak Rama menaikkan alisnya.
“Serius kamu?” tanyanya kaget.
“Kok bisa? Ibu ngapain memangnya?”
Aku tidak menjawab namun menghidupkan handphone ibu.
“Aku nggak pernah sempat lihat akun Ibu,” kata Kak Rama.
“Lagipula aku nggak tertarik juga.”
Kak Citra mengangguk setuju.
“Aku juga. Aku nggak suka buang-buang waktu untuk itu.”
“Itu yang aku takutkan waktu ibu bilang mau bikin akun Instagram. Bukannya aku nganggep internet buruk, tapi aku cuma was-was untuk ibu. Nggak ada yang tau bagaimana tiap orang bakal terpengaruh seperti apa karena internet.”
Sembari menunggu handphone ibu hidup, aku mendengarkan obrolan kedua kakakku tersebut. Sebagai pengguna internet yang aktif, aku sebenarnya cukup setuju. Melihat bagaimana teman-temanku yang sering menjadi korban peringatan dari berita-berita hoax yang orang tua mereka dapatkan. Aku cukup paham bagaimana kekhawatiran kedua kakakku. Di luar itu, mereka yang memang sangat amat protektif terhadap segala hal yang berkaitan dengan ibu. Mereka hanya terlalu menyayangi ibu.
Aku akhirnya membuka Instagram milik ibu. Kedua kakakku pun berdiri dan menghampiriku untuk ikut serta melihat ke layar handphone.
“Ibu nggak separah yang kakak pikir, kok,” kataku.
Dan itu memang benar. Ibu menggunakan akunnya dengan caranya sendiri.
Foto profil ibu adalah foto kami bertiga semasa kecil saat kami berlibur ke pantai. Unggahan foto ibu juga tidak jauh berbeda dengan unggahan para orang tua lainnya. Ibu selalu mengunggah foto-foto keluarga kami di berbagai momen, tapi bukan itu yang menjadi sorotan melainkan tulisan-tulisan yang menyertai tiap foto yang ibu unggah.
“Ini foto Kak Rama waktu jatuh dari sepeda,” kataku.
Kemudian kami membaca caption yang tertulis.
Rama, si sulung. Hobinya jatuh dan bikin khawatir. Tapi bukankah menjadi orang tua memang selalu akan seperti itu? Ibu selalu secara tidak disadari menciptakan skenario-skenario buruk tentang anak mereka di kepala. Setelah salah satu dari yang terpikir terjadi, tiba-tiba rasanya ingin sekali mengunci mereka semua di rumah sampai rasa khawatir ini hilang (yang artinya selamanya). Hidup anak bukan berarti hidup saya. Khawatir saya, bukan berarti alasan untuknya berhenti menjadi manusia. Khawatir saya bukan alasan untuk Rama berhenti bersepeda tentunya. Mungkin ke depannya saya saja yang perlu memberitahunya untuk terus berhati-hati selagi saya terus menabahkan diri untuk melatih rasa khawatir ini.
“Kakak jelek banget nangisnya,” kataku menunjuk foto itu yang disahuti oleh tawa kecil Kak Rama. Kemudian aku membuka unggahan Ibu yang menampilkan foto Kak Citra yang sedang menonton televisi di ruang tamu saat ia masih di bangku SMA.
Citra, si anak kedua. Tidak banyak bicara, tapi punya banyak peduli untuk keluarganya. Pemikirannya memang sedikit susah untuk dibantah. Begitu teguh dengan kakinya sendiri. Ini waktu dia menonton televisi setelah tiga bulan tidak mengizinkan diri sendiri untuk menduduki sofa ruang tamu. Katanya dia harus lulus ujian masuk universitas, maka dia mengurung diri di kamar sampai saya harus memaksanya untuk keluar. Takut jikalau saya sampai lupa dengan tahi lalat di bawah matanya itu. Saya ingin bilang bahwa tidak perlu sampai menyiksa diri jika tujuannya hanya untuk membanggakan saya, karena saya selalu bersyukur soal apa pun yang mereka raih. Tapi katanya, itu bukan berarti dia harus seenaknya melalaikan kesempatan dan kemampuan dirinya. Saya hanya tersenyum mendengarnya. Diam-diam ingin menangis. Anak memang selalu berhasil mengulik sisi paling rapuh dari hati kita. Berusaha memang harus, tapi jangan lupa jaga kesehatan ya, anak-anakku semuanya. Saya percaya, kita semua adalah pilihan Tuhan yang terbaik.
Aku dapat mendengar Kak Citra menarik napas.
“Aku nggak kepikiran kalau ibu akan nulis yang seperti itu,” katanya pelan. Aku dan Kak Rama mengangguk setuju.
Kami kemudian berlanjut ke foto diriku saat kelulusan SMA.
Si bungsu yang selalu senyum, bahkan di saat nilainya dianggap tidak masuk ke dalam standar yang mesti dibanggakan. Dia bilang, “Bu, maaf nilaiku cuma bisa segini. Aku bisanya cuma gambar.” Mendengar itu saya menggeleng kuat. Tidak menjadi seperti yang lainnya bukan lah sebuah kesalahan. Saya yakin, tiap anak punya kemampuannya masing-masing dan saya tidak perlu menyamakan diri dengan yang jelas-jelas berbeda. Pulang dari sekolah saya dan Rana kemudian pergi ke kedai sate favorit Rana. Hasil yang tidak memuaskan bukan selalu berarti dilakukan dengan usaha yang minim. Memang kadang hidup selalu tentang sesuatu yang tepat. Rana hari itu makan dua porsi sate sendirian. Saya senang, tahu jika dia masih mampu menikmati sesuatu yang disukainya. Semoga kalian juga begitu, ya. Tidak perlu harus sama dengan orang lain. Oke?
“Ibu disebut ibu online sama followers-nya,” beritahuku.
Aku diberitahu oleh teman-temanku soal ini. Mereka bilang ibu selalu membagikan pemikirannya mengenai kehidupan lewat unggahan-unggahannya. Tulisannya yang selalu membuat hati menjadi tenang. Tulisan yang membuat orang-orang merasa tidak sendirian. “Orang-orang suka kehadiran Ibu yang seperti Ibu.”
“Postingan terakhir Ibu kapan?” tanya Kak Rama.
Aku melihat layar handphone. “Bulan lalu, pas masuk rumah sakit.”
Kami pun melihat unggahan foto ibu yang berisi foto kami saat sedang mengobrol di ruang tamu. Aku dengan piyama lusuh kesukaanku, Kak Citra dengan cemilan di tangan, dan Kak Rama yang berbaring di lantai dengan santai.
Jika ditanya, “sampai kapan seorang Ibu menjaga anaknya?”
Maka saya akan menjawabnya, “Seumur hidup, Nak. Sepanjang hidup.”
***
“Rana, tolong kasih pengumuman di akun Instagram Ibu soal ibu. Sepertinya harus diberitahu.”
Setelah membaca seluruh unggahan ibu dan tulisannya, kami pun berhenti. Kak Rama berjalan menjauhiku, memasuki kamarnya, sedangkan Kak Citra pergi ke kamar mandi. Dalam sunyinya rumah, aku dapat mendengar kedua kakakku sama-sama berusaha menahan diri untuk tidak menangis.
Aku kemudian menuliskan sesuatu di handphone milik ibu seperti perintah Kak Rama. Menunggah foto ibu yang kuambil saat kami berlibur bersama tahun lalu. Ibu dengan senyumnya yang sangat lebar dan sejuk.
Selamat malam kepada seluruh pengikut akun milik Ibu Yuliana. Perkenalkan, saya Rana, anak dari Ibu Yuliana pemilik akun ini. Dengan unggahan ini, saya ingin menyampaikan bahwa ibu kami tersayang, Ibu Yuliana, telah berpulang ke pangkuan Allah SWT pada hari Selasa pukul 15.30 WIB. Kami mohon maaf atas nama anak-anak dari Ibu Yuliana jika ada hal-hal yang tidak berkenan yang pernah dilakukan Ibu Yuliana. Mohon doanya untuk Almarhumah. Semoga kita semua selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Setetes air mata mulai meluncur menuruni pipiku. Air mata pertamaku semenjak ibu menghembuskan napas terakhirnya. Ibu selalu bilang aku anak yang murah senyum, maka dari itu aku tidak pernah berani untuk menangis apalagi di saat kepergiannya. Tetapi seperti kata Ibu, tidak semuanya berjalan seperti yang diinginkan. Sambil terus melihat ke layar handphone, aku menangis dalam diam. Aku terus menatap Instagram milik ibu.
Innalillahiwainailaihirojiun. Selamat jalan ibu online. Terima kasih karena telah merawat hati kami lewat tulisan-tulisan dan unggahan foto ibu. Sampai bertemu di surga nanti, Bu. Kami pasti akan terus merindukan ibu.
Catatan: Cerpen ini Juara 1 Lomba Cerpen Peringatan Hari Ibu, Scientia 2020.
Tentang Penulis:
Isna Meiriska lahir di Lampung, 29 Mei 2000 dan berasal dari Bukittinggi. Ia bisa dihubungi melalui email: isnameiriska@gmail.com
Tinggalkan Balasan