Padang, Scientia – Kalangan sastrawan luncurkan buku “Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri (SCB)”. Dalam buku tersebut, menyinggung hadiah Nobel Sastra untuk Sutardji.
“Usulan pemberian Nobel Sastra untuk SCB ternyata sudah sejak lama disuarakan berbagai kalangan sastrawan, baik Indonesia maupun mancanegara,” kata wartawan sastrawan, Taufik Ikram Jamil yang juga penulis buku Biografi SCB, Rabu (2/6).
Taufik menambahkan, dukungan untuk pemberian hadiah nobel sastra tersebut datang dari Ketua Gabungan Penulis Nasional (Gapena) Malaysia, Zainal Abidin Borhan, guru besar sastra Universitas Negeri Malang, Djoko Saryono dan Asosiasi Tradisi Lisan Al Azhar. Pakar lain dari Brunei, Singapura, Korea Selatan dan Indonesia juga menunjukkan keunggulan SCB dari penyair lain serumpun.
“Begitu juga dengan sarjana sastra dari Universitas Leiden Belanda, Will Derks, meletakkan perkembangan baru sastra di barat. Sudah lama terjadi di Indonesia, dengan SCB sebagai penyair yang berada di depannya. Tak heran bila SCB sendiri sejak lama mengatakan bahwa dia dan generasinya bukan ahli waris kebudayaan dunia, tapi justru mewariskan kepada dunia,” terang Taufik.
Kata Taufik, Nobel Sastra untuk SCB sudah sejak dulu dibicarakan. Bahkan, sastrawan Leon Agusta semasa hidup selalu mengumandangkan hal itu. Tentu banyak hal lain, termasuk cerita-cerita lucu dan sedih dalam hidup SCB yang juga alasan nobel untuk SCB.(*)

Tinggalkan Balasan