
Cerpen : Er-Ragel
“Mak, sejak puasa pertama hingga kesembilan belas, manisan pala ini melulu yang kemubaziran. Kenapa tidak diganti saja dengan takjil yang lain? Mak selalu saja bergayut dengan pala-pala di belakang rumah. Tanah di pelataran belakang luas, kan? Kalau saja Mak menebang pohon pala itu dan menanam sawit, pasti aku tak payah bekerja untuk sekadar membeli boneka.”
Fonna mengernyitkan alisnya, berbaur rasa antara heran, kesal, gelabah, dan entahlah.
“Tidak mubazir, Sayang. Kan kamu tahu sendiri Mak membagikannya secara percuma kalau tersisa.” Mak menjawab seadanya sembari mencubit risol, bakwan, dan molen yang kemudian dimasukkan ke dalam kantong kresek.
Sore itu, suasana jalanan sungguh senewen. Rinai angin yang bertolak dari pantai Ulee Lheue menuju kota menepis keruwetan. Matahari pun tak hirau menjadi. Dahaga yang memunca pada kerongkongan peziarah sepanjang jalan Ulee Lheue tak terkendali. Fonna memperhatikan gerak-gerik setiap peziarah jajakannya. Mereka pada menelan liur yang terhambat. Seorang lelaki dewasa sore itu malah tak sanggup menelan, membikin liurnya menetes dan bergelantung menjijikkan pada jenggotnya yang lebat. Dari kejauhan, terlihat berduyun-duyun aparat berseragam mengubek-ubek jajakan pedagang. Menelisik siapa pun yang tak hirau aturan memakai masker.
Ya, para pengelana jajakan tak tegar melihat tangan Mak Jaitun dengan lihai mengaduk-aduk es timun suri yang diramunya dengan gula aren racikan sendiri. Selain mengasongkan es timun suri, Mak dan anak itu pun membuat takjil. Dua ratus takjil setiap hari. Biasanya tak sampai bunyi sirine dikumandangkan – alamat berbuka puasa, es timun suri dan takjil yang mereka jajakan sudah ludes, kecuali satu ini yang selalu saja mengejewantahkan mereka duduk lebih lama di emperan trotoar. Hingga azan Isya pun, manisan pala tak suah dijamah tangan-tangan peziarah.
Jika tidak sibuk membantu Mak, Fonna biasa membuka Iqra untuk murajaah. Gadis delapan tahun itu giat membaca huruf Arab: A-ba-ta-tsa-ja-ha. Apabila ia lupa huruf, ia akan merecok Mak Jaitun yang sedang melayani pembeli, tingkah si bocah inilah yang menjadi gelak tawa tersendiri bagi pelancong di sana, ujungnya, pengunjung dengan senang hati mengajari bocah yatim itu membaca Iqra.
“Fonna! kemari, Nak!” Bocah itu berlari menghampiri Mak, kerudung yang tak terpasang benar pada kepalanya membuat rambutnya kelayapan menutupi jidat. Mak Jaitun memperbaiki posisi kerudung Fonna dan mendudukkannya pada pangkuan.
“Sayang, sudi kamu menyimak Mak bercerita?”
Mak mengusap punggung tangan Fonna dengan belaian halus-kasar. Halus lantaran sayang seorang ibu kepada anak semata wayangnya. Kasar sebab memang tangan Mak terkelupas parah. Mak pun menjadi buruh cuci setiap malamnya. Maka rindu Fonna saat-saat Abu masih hidup. Abu lah yang bekerja sementara Mak selalu berbagi setiap detik bersama Fonna.
“Ceritalah, Mak, asal jangan cerita hantu. Fonna takut terkencing malam nanti.” Merekah senyum manis di wajah Fonna dan sekilas nampak gigi susunya yang berlubang hitam di deret depan bagian atas.
“Kamu heran kan, mengapa Mak masih saja menjual manisan pala ini? Padahal, kau yang masih bocah begini pun paham kalau manisan pala tidak pernah menghasilkan uang untuk kita. Fonna sudah harus mengerti. Mak hanya berusaha taat pada wasiat Umi–nenekmu untuk selalu mewarisi budaya manisan ini turun-temurun. Hari ini, jarang sekali Mak melihat ada yang menjualnya. Orang-orang tua pun tak acap mengajarkan kepada anak-anak gadis mereka cara membuat manisan ini. Pentingnya, setiap Mak membuat manisan pala ini, Mak akan mengenang masa-masa kecil dulu bersama Umi. Nenekmu tak absen menyiapkan manisan pala sebagai menu berbuka puasa. Mak bingung karena buah pala yang diketahuinya dijual di pasar itu keras seperti biji, bukan buah. Mak baru paham bahwa Umi hanya menggunakan bagian dagingnya saja untuk membuat manisan pala, sementara bijinya dijual ke pasar.
Masa di mana Aceh masih berperang dengan kompeni, pala-pala ini tumbuh subur di kebun belakang. Endatu kata: Van Heutsz, yang menjadi dalang tercetusnya Perang Aceh pun gemar makan olahan buah pala ini. Maka pada suatu hari, di usia Umi yang sedang sakit-sakitan, Umi ingin membuat manisan pala untuk yang terakhir kalinya, walau sekedar separuh mangkuk. Ingat Mak, masa itu di rumah tidak terdapat bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat manisan pala. Akhirnya, Umi dengan tergopah-gopah berusah mencari bahannya ke orang yang kira-kira memilikinya. Mak kecil ikut mengekor Umi, Mak bisa kenal siapa saja yang memberikan bahan-bahan itu, dan sampai hari ini pun Mak terus membalas jasa mereka atas Umi. Hambatan kami tatkala Umi menjadi buronan serdadu negara. Umi memang sempat bergabung bersama inong balee sebelum akhirnya memilih jalan tengah sebab usia dan janda. Maka proses menelusur bahan demi bahan berlangsung sangat menegangkan.
Mak dan Umi pun berjalan menempuh jalan setapak demi setapak–selalu dalam kewaspadaan. Tujuan utama kita rumah Apa Malem di desa Asoe Nanggroe, tidak begitu jauh dari gubuk kami. Ke sana untuk meminta barang setengah kilo gula pasir. Apa Malem adalah adik kandung Mak. Dia pun sedang kejar-kejaran dengan serdadu. Naik-turun gunung menyelamatkan diri. Ketika itu, kami berharap Apa Malem berada di rumah, agar setiap langkah tidak sia-sia belaka. Sesampainya di sana. Alhamdulillah, kami bertemu dengan lelaki berbadang kekar itu. Umi menyampaikan perihal kami datang kepadanya.
Apa Malem lantas masuk ke dalam rumah dan mengambil gula pasir. Sekilo lebih diberikan kepada Mak. Kami pamit dan kembali berjalan untuk mendapatkan bahan kedua; kapur sirih. Kali ini agak sulit. Kami harus memintanya dari Haji Mustafa–mantan bos Abu di perkapalan dulu. Kikir memang, tapi kami tak punya pilihan. Saudara dan kenalan rata mati dalam konflik saudara. Tak pernah kami melihat Haji Mustafa memberi dengan ikhlas. Semuanya pasti ada niat terselubung. Terakhir, di hari Samadiyah Abu ke tujuh. Haji Mustafa datang bersama lima orang ajudannya yang kekar menjulang. Ia menyerahkan surat hutang yang tertulis bahwa Abu meminjam uang kepadanya dua setengah juta. Apabila ia tidak sanggup membayar, Haji Mustafa berhak mengambil seperempat tanah kebun pala di belakang rumah. Umi dan Mak tiba di istana “Si Kikir”. Kami tak yakin bisa kembali dengan kapur sirih. Kami mengucap salam dan keluar seorang wanita muda. Dia asisten rumah tangga “Si Kikir”–jika ditelisik dari busananya. Kami sampaikan hajat kami untuk menjumpai Haji Mustafa. Wanita itu menjawab kalau rumah tersebut sudah tidak lagi ditinggali Haji Mustafa. Mantan bos Abu itu sudah pindah ke Jakarta dua bulan lepas.
Kami tidak pusingkan itu. Baiknya, kami sudah mendapatkan dua sendok makan kapur sirih dari kemurahan wanita itu, tanpa harus mendengar sumpah serapah Haji Mustafa. Kami melanjutkan perjalanan, tujuan terakhir. Pelabuhan Ulee Lheue. Kami butuh enam lembar daun jeruk. Umi ingat di sana pernah ada pohon jeruk. Moga saja tidak ada tangan usil yang menebang pohon itu. Perjalanan kaki sekitar tiga puluh menit dari bekas rumah Haji Mustafa menuju pelabuhan. Dekat pelabuhan itu juga tinggal seorang teman lama Umi bernama Yasmin, kami akan singgahi kediamannya untuk meminta vanili dan pasta kopi. Sesampainya di pelabuhan, Umi langsung memotek daun jeruk sesuai dengan kebutuhan sekali jadi manisan pala. Kami tak lupa meminta izin kepada penjaga palang pelabuhan. Lanjutlah kami ke rumah Yasmin. Rumah itu sudah berubah, tidak seperti lima belas tahun silam, bertransmisi semakin indah. Kami masuki halaman yang penuh dengan bunga-bunga anggrek. Sampailah kami ke pos pengamanan. Sejak kapan di sini ada pos? Umi kaget. Penjaga pun bukan sembarang, mereka berbaju loreng dan masing-masing memegang senjata berlaras panjang. Salah seorang penjaga mendekat dan bertanya,“Ada keperluan apa?” Umi menjawab. “Saya dan anak saya ingin bertemu dengan Ibu Yasmin, bisa tolong dipanggilkan?”
Penjaga yang risih dengan kedatangan kami berbalik menghampiri empat komplotannya dan berbicara dengan lirih tanpa terdengar. Kemudian ia kembali kepada kami dan berkata,
“Baiklah, tunggu sebentar! Saya panggilkan Tuan.” Ia pergi meninggalkan Mak dan nenekmu dalam kebingungan.
“Tuan, apakah Ibu Yasmin sudah berkeluarga?”
“Iya, Nyonya Yasmin menikah dengan kepala serdadu kota. Kenapa heran begitu?”
Umi gugup. Keringat mengaliri parit-parit wajahnya. Kalau saja suaminya mengenal yang datang kepadanya ialah istri dari seorang panglima revolusi. Tak lain kedatangannya kali ini menuju kandang harimau yang kelaparan. Kami tak bisa beranjak, selangkah kami enyah. Prajurit-prajurit di sana bisa langsung menembakkan kaki salah satu dari kami. Umi hanya berharap yang menemuinya Yasmin, bukan suaminya.
Harapannya pupus, setelah suaminya Yasmin yang justru menjumpai kami. Ia langsung mengenali Umi. Sigap Umi membopong Mak, berlari menghindari Malaikat Maut. Namun, pelarian itu hanya sia-sia. Seperti duga semula, bos serdadu itu langsung berteriak: Tembak! Salah seorang prajurit mengokang senjatanya dan mengarahkan tembakan ke kaki Umi. Mak terbanting dari pundak Umi. Mak menangis ketika mendengar bunyi tembakan dan menyadari kaki Umi sudah bolong tertembus peluru. Mak dan Umi dibawa masuk ke dalam rumah Yasmin. Mak juga lihat Yasmin menangisi kematian sahabatnya itu lewat perintah suaminya sendiri. Jenazah Umi dibiarkan melarung di laut Ulee Lheue, sementara Mak dibuang ke Medan. Baru ketika Mak sudah besar, Mak balik ke Kutaraja dan memulai hidup baru dengan Abumu. Sejak saat itu, Mak berjanji akan selalu meneruskan wasiat Umi supaya menjaga warisan manisan pala ini sampai akhir hayat. Semoga kamu paham, Nak.”
Tanpa disadari, mata Fonna berair, ia sedih dengan cerita Mak. Mak mengusap mata boh hatenya dengan setangan. Tak lama kemudian, datanglah sebuah mobil mewah berpelat merah. Ia datang menghampiri jajakan kami.
“Mak Cik, tolong manisan palanya semua dibungkus ya.”
Mak dan Fonna saling memandang, kemudian merekah senyum keduanya. Gigi mereka sama-sama ompong.
“Baik, Dik. Duduk dulu sekejap.”
Catatan: Cerpen ini pemenang 2 Lomba Menulis Cerpen Scientia Peringatan Hari Ibu pada 22 Desember 2020
Biodata
Er-Ragel lahir dan besar di Jakarta. Usia dua belas dibawa Ibu merantau hijrah ke Aceh. Kini ia berumur dua puluh dua tahun dan sedang mengenyam pendidikan di Jurusan Bahasa dan Sastra Arab, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Beberapa karyanya pernah dimuat koran lokal Aceh semisal Serambi Indonesia. Ia juga aktif bergiat di Bengkel Sastra Fozan Santa. Er-ragel yang memiliki nama asli Ziyat.

Tinggalkan Balasan