![Komunitas Cendikia Minangkabauwi, pelaku seni serta pemerhati lingkungan di bukittinggi menggelar aksi sosial membersihkan sampah di TPA Gadut, Jumat (19/2). [Foto:Scientia/ank]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2021/02/WhatsApp-Image-2021-02-20-at-06.11.39.jpeg)
“Goro bersama membersihkan lokasi eks TPA di Gudut itu juga melibatkan pegawai dan petugas kebersihan Dinas Linkungan Hidup (DLH) Kota Bukittinggi,” ujar Pengurus Komunitas Cendikia Minangkabauwi, Irwan Burhanundin kepada Scientia usai goro.
Ia mengatakan, setelah area eks TPA bersih, ke depan akan diberdayakan menjadi tempat pengelohan sampah berbasiskan teknologi. Hasil dari pengelohan sampah tersebut, lanjut Irwan, akan menjadi pakan ternak seperti makanan ayam, makanan ikan, barang seni dan lain sebagainya.
“Sampah-sampah yang diolah menjadi ladang ekonomi tersebut berasal dari sampah kering, basah dan kaca,” sambung Irwan yang juga pelaku seni dan pemerhati lingkungan itu.
Sementara, Kabid DLH Bukittinggi Yosef Anwar mengatakan, selain sebagai pengolahan sampah menjadi pakan ternak dan barang seni, di eks TPA tersebut juga akan dibangun objek wisata alam berbasis sampah.
“Selain pengolahan sampah menjadi barang seni, pakan ternak, pupuk kompos dan pengembangan ulat magot, eks TPA di Gadut juga dikelola menjadi objek wisata sampah,” terang Yosef. Ia menambahkan, hal tersebut akan terwujud jika pengelohan sampah berbasiskan teknologi.
“Jika pengelolaan sampah berbasis teknologi, masyarakat sekitar eks TPA pun sudah pasti mengizinkan,” sambungnya.
Direncanakan di lokasi TPA akan didirikan beberapa bangunan. Bangunan tersebut berfungsi sebagai tempat pemisahan plastik, karton, kaca dan organik yang residunya dilebur dengan sistem pembakaran.
“Peleburan sampah sistem pembakaran, menghasilkan abu. Dan abu dari berbagai sampah yang dibakar itu bisa dijadikan bahan membuat batako atau paving block,” jelasnya. (ank)
Tinggalkan Balasan