Mata Air Bulan April

Cerpen: Jufika Martalina

Suara gemuruh mengiringi kemunculannya. Seorang pria paruh baya berteriak.

“Lihatlah, dia telah muncul”.

Mata air itu akhirnya muncul di kaki Bukit Nabu. Berita kemunculannya tersebar luas sampai ke pelosok bukit. Waktu itu adalah penghabisan bulan keempat dalam kalender masehi. Masyarakat Bukit Nabu memberinya nama Mata Air Bulan April.

Sekitar satu tahun lalu, kabar kemunculannya telah diramalkan oleh seorang petapa. Petapa berkata kepada masyarakat di kaki bukit  bahwa akan ada kemunculan sebuah mata air muda di kaki bukit ini. Akan muncul di pertengahan bulan ketiga tahun ini. Ternyata ramalan petapa itu benar. Akan tetapi, waktu kemunculannya tidak sesuai dengan yang dia ramalkan. Petapa memang bukanlah Sang Pencipta.

Mata Air Bulan April tidak seperti mata air lainnya. Mata air ini hanya menjadi buah bibir pada awal kemunculannya saja. Bulan-bulan berlalu, Mata Air Bulan April hanyalah mata air yang tidak digemari karena memang dia adalah mata air ke-30 yang ada di sekitar Bukit Nabu. Masyarakat tidak pernah mengunjunginya. Dia tidak dibuatkan sumur sebagaimana mata air lainnya. Airnya tidak pernah digunakan untuk keperluan hidup. Dia hanya dibiarkan mengalir begitu saja. Tidak diberi pipa untuk mengalirkannya ke sawah atau ke rumah-rumah sekitar bukit. Dia hanya dibiarkan mencari jalannya sendiri.

Hari demi hari, bulan demi bulan, dan sekarang sudah hampir satu tahun mata air ini berkelana mencari tempat yang bisa menerima kehadirannya. Dia telah melalui berbagai jalur jalan, sungai, tanah, bahkan di sela-sela bebatuan. Siang atau malam, dia selalu mencari jalan. Lalu tepat di pertengahan desa yang jaraknya lebih dari 100 km dari kaki bukit, seorang perempuan tua melihatnya mengalir.

Seakan pertemuan keduanya sudah digariskan. Kehidupan perempuan tua dan Mata Air Bulan April menjadi semakin baik sejak pertemuan mereka tahun lalu. Perempuan tua tidak kesulitan mendapatkan air. Mata Air Bulan April merasa sangat senang karena dia sudah menemukan tempatnya. Memang sebelum pertemuan mereka, perempuan tua sangat kesulitan untuk mendapatkan air bersih. Perempuan itu telah lama hidup sebatang kara sejak kematian suaminya. Dia tinggal di sebuah rumah tua setua umurnya. Penghidupan yang tidak mendukung, membuatnya tidak berdaya membeli air kepada pemasok. Tubuhnya yang renta tidak berdaya bekerja untuk menghasilkan uang. Sejak pertemuannya dengan Mata Air Bulan April, dengan segala kekuatan tubuhnya dia berhasil membuat rumah kecil untuk mata air kesayangannya.

Ya, perempuan tua merawat mata air dengan penuh kasih sayang, layaknya seorang ibu merawat anaknya. Akan tetapi, pada suatu malam, perempuan tua tiba-tiba menutup rumah yang telah ditempati oleh Mata Air Bulan April dengan tanah.

“Apa yang engkau lakukan? Engkau tak menyayangiku lagi?”

Pertanyaan itu berulang-ulang bermain di pikiran Mata Air Bulan April saat  tangan perempuan tua menimpalinya dengan tanah demi tanah. Mata air merasa sesak, namun apa daya perempuan tua itu terus menutupinya dengan tanah. Ada hal yang disadarinya ketika itu, ada air lain yang jatuh menimpa dirinya selain tanah-tanah itu. Air itu berasal dari matanya, mata perempuan tua.

Esok paginya pertanyaan itu seakan terjawab. Mata Air Bulan April melihat seseorang keluar dari rumah perempuan tua sambil berkata ke seseorang lainnya.

“Perempuan tua itu sudah tidak bernyawa”.

Dengan perasaan sedih yang tak terbendung, Mata Air Bulan April mengalir tak tentu arah meninggalkan rumah perempuan tua dengan segala kenangan mereka.

“Untuk apa aku diciptakan jika kehadiranku hanya dibiarkan begitu saja? Mengapa orang-orang hanya memanfaatku sementara? Mengapa aku tidak seperti mata air lainnya? Lalu ntuk apa aku ada?”

Mata Air Bulan April merasa begitu marah dan kecewa dengan jalan hidupnya. Pertanyaan demi pertanyaan melintas di benaknya. Dalam kemarahan dan kekecewaan atas takdirnya, secara tidak sadar dia sampai ke suatu tempat. Sebuah tempat yang sangat asing. Dilihatnya gedung-gedung tinggi menjulang, tidak ada rumah tua. Tidak ada jalan tanah seperti di desa kemunculannya atau di desa perempuan tua. Dia sudah berada di sebuah rumah yang mewah, sekelilingnya di penuhi dengan marmer, di dasarnya ada pipa berukuran besar. Dia berada di sebuah tempat yang sangat luas. Dilihatnya beribu-ribu pipa kecil. Tidak lama setelah dia sadar, muncul beberapa orang dengan pakaian seragam saling bersalaman. Sembari melemparkan senyum lebar ke rekan-rekan lainnya, seseorang berkata.

”Akhirnya kita bisa memberikan air ke rumah-rumah di kota ini”.

Padang, 18 Juli 2020


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *