Oleh : Nike Nofianti
Lobi dan negosiasi merupakan bagian dari aktivitas komunikasi yang sering dilakukan oleh individu maupun kelompok (institusi). Menurut Nasution (2007) lobi dapat diartikan sebagai suatu upaya pendekatan yang dilakukan oleh pihak yang memiliki kepentingan tertentu untuk memperoleh dukungan dari pihak lain yang dianggap memiliki pengaruh atau wewenang dalam upaya pencapaian tujuan yang dikehendaki. Sedangkan negosiasi bermakna komunikasi timbal balik yang dirancang untuk mencapai tujuan bersama.
Proses lobi maupun negosiasi pada dasarnya tidak hanya melibatkan komunikasi verbal saja. Namun juga dilakukan dengan komunikasi non-verbal. Komunikasi ini melibatkan bahasa tubuh (gestur) dengan tujuan untuk memperkuat pesan yang telah disampaikan sebelumnya. Penggunaan komunikasi non-verbal dalam proses lobi dan negosiasi berbeda dengan penggunaan komunikasi verbal. Jika komunikasi verbal dilakukan secara sengaja, maka komunikasi non-verbal dilakukan tanpa sengaja oleh pelakunya.
Tanpa disadari dalam kehidupan sehari-hari kita juga sering menggunakan komunikasi non-verbal. Meskipun komunikasi verbal bersifat tetap dan selalu ada. Komunikasi verbal pun biasanya dilakukan secara lebih jujur dan spontan dalam mengungkapkan hal yang ingin disampaikan. Sedangkan komunikasi non-verbal merupakan komunikasi selain menggunakan bahasa lisan dan tulisan. Sebagaimana yang diungkapkan Deddy Mulyana bahwa komunikasi non-verbal adalah segala bentuk komunikasi tanpa menggunakan lambang-lambang verbal. Seperti kata-kata berupa percakapan maupun tulisan. Knapp dan Hall mengemukakan pendapat yang hampir serupa bahwa pesan non-verbal berupa semua isyarat yang bukan kata kata (Mulyana, 2012:342).
Kemudian Deddy Mulyana (2012: 352) menyebutkan terdapat beberapa jenis komunikasi non-verbal yakni: (a). Sentuhan, termasuk bersalaman, menggenggam tangan, sentuhan di punggung, mengelus-elus, pukulan dan lain-lain, (b). Gerakan tubuh, meliputi kontak mata, ekspresi wajah, isyarat, dan sikap tubuh. Gerakan tubuh biasanya untuk menggantikan suatu kata seperti anggukan untuk kata “ya” dan gelengan kepala untuk kata “tidak”. Kemudian (c). Proxemik, yaitu jarak yang digunakan saat berkomunikasi. Pengaturan jarak menentukan seberapa jauh atau seberapa dekat tingkat keakraban dengan orang lain, (d). Vokalik, yakni unsur non-verbal dalam suatu ucapan contohnya nada bicara, keras atau lemahnya suara, kecepatan berbicara, kualitas suara, intonasi dan lain-lain. Serta (e) Kronemik, berkaitan dengan penggunaan waktu dalam komunikasi yakni meliputi durasi yang dianggap cocok bagi suatu aktivitas.
Selain itu juga terdapat prinsip-prinsip penting dalam komunikasi non-verbal antara lain pertama, komunikasi non-verbal tidak sama dengan komunikasi verbal karena komunikasi verbal harus dilakukan dengan sadar dan sengaja. Prosesnya selalu dimulai dengan pemberian makna serta perumusan pesan lalu diakhiri dengan pengiriman pesan. Kedua, pesan-pesan non-verbal dapat diekspresikan secara tidak sengaja ataupun disengaja, dan secara sadar atau tidak.
Menurut Ekman dan Knapp (Devito, 2013), terdapat enam fungsi bahasa non-verbal yakni, fungsi menekankan, melengkapi, menunjukkan kontradiksi, mengatur, mengulangi, dan fungsi mengganti. Lalu terdapat enam ciri utama komunikasi non-verbal yakni, isyarat non-verbal bersifat komunikatif, isyarat non-verbal bersifat kontekstual, isyarat non-verbal bersifat paket, isyarat non-verbal dapat dipercaya, isyarat non-verbal dikendalikan oleh aturan, dan isyarat non-verbal bersifat metakomunikasi.
Sementara itu bahasa tubuh pada dasarnya juga memainkan peran penting dalam sebuah aktivitas lobi dan negosiasi diantaranya; pertama, bermanfaat untuk mencairkan suasana pada saat pertemuan kedua belah pihak. Kedua, dapat membaca maksud dan tujuan pihak lain, misalnya masing-masing pihak mencoba untuk mengenal satu sama lain. Ketiga, secara tidak langsung bahasa tubuh dapat memberikan informasi tentang hal yang sedang dipikirkan oleh lawan bicara. Penggunaan bahasa tubuh juga berdampak penting, karena dapat membuat lawan bicara tertarik dan merespon pesan yang disampaikan sesuai yang kita inginkan. Akan tetapi jika penggunaan bahasa tubuh salah atau tidak tepat maka juga dapat menimbulkan kesalahpahaman. Maka mimik wajah dan gerakan tangan yang tepat saat kita berbicara di depan umum atau saat melakukan negosiasi menjadi poin penting untuk menarik minat orang lain terhadap apa yang sedang kita bicarakan.
Selanjutnya melalui bahasa tubuh kita juga dapat mengetahui dan memahami feedback (umpan balik) dari lawan bicara. Feedback (umpan balik) sendiri merupakan tanggapan atas pesan yang disampaikan oleh komunikator. Adapun feedback yang kita terima dapat bersifat positif dan negatif. Feedback negatif dapat berupa penolakan pesan komunikator, menentang, hingga memusuhi. Sedangkan Feedback positif dapat diketahui mulai dari komunikan diam, mengerti, memahami hingga mendukung. Sifat yang lebih ekstrem lagi yakni dengan mengajak orang lain untuk bersama mendukung dan melakukan aksi tindakan sebagaimana dikehendaki oleh komunikator. Saat proses komunikasi, komunikator selalu menempatkan tujuan yakni komunikan mengerti, memahami, mendukung, dan melakukan sesuai yang diminta komunikator.
Pada saat menghadapi sasaran lobi, bersikaplah jujur dan janganlah berbohong. Meskipun komunikator mampu menyembunyikan perasaannya, dengan sedikit ketekunan komunikan akan mampu menangkap sinyal sesungguhnya dari pikiran dan perasaannya. Meskipun demikian, komunikator perlu berhati-hati dalam menafsirkan bahasa tubuh komunikan. Pada dasarnya salah penafsiran bahasa tubuh dapat menyebabkan hubungan atau atmosfer positif yang telah dibangun menjadi rusak. Sebagai contoh seorang pria menggerakkan alisnya berulang-ulang saat memandang seorang wanita walaupun sebenarnya pria tersebut tidak memiliki maksud dan memang karena dia tidak bisa mengendalikan sejumlah jaringan otot sekitar alis matanya. Jika wanita tersebut langsung marah dan tersinggung, tentu saja keduanya tidak dipersalahkan. Salah pengertian juga bisa muncul karena faktor perbedaan budaya. Contohnya, usapan pada kepala pada sebagian budaya menunjukan ketidaksopanan, tetapi pada sebagian budaya menunjukan adanya keakraban. Hal ini tentu saja harus diwaspadai oleh komunikator saat melakukan lobi dan negosiasi karena isyarat yang sama belum tentu memiliki arti yang sama.
Maka beberapa tips yang dapat diterapkan untuk memahami komunikasi non-verbal yaitu; Pertama, mengalokasikan waktu untuk melatih kemampuan membaca dan menggunakan bahasa isyarat. Kedua, memahami psikologi lawan bicara. Karena selain perubahan fisik, kejiwaan seseorang juga mengalami perubahan. Ketiga, memperhatikan dan menyadari adanya bahasa non-verbal atau bahasa isyarat itu mudah, tetapi untuk menafsirkannya sulit. Sebab tiap-tiap isyarat akan diikuti isyarat lain dan isyarat yang mengikutinya bisa memperkuat, bisa menentang bisa mengacaukan.
Keempat, mengasah kemampuan membaca pikiran sasaran lobi dan negosiasi. Kemampuan dalam membaca jalan pikiran sasaran lobi dan negosiasi membantu keberhasilan sebuah lobi dan negosiasi. Dengan kemampuan membaca pikiran tersebut komunikator dapat mengetahui kebutuhan-kebutuhan lawan bicara, ataupun harapan-harapannya. Komunikator dapat membaca hal-hal yang tidak disukai sehingga dapat menjauhi hal-hal tersebut dan tetap mampu menjaga hubungan baik. Jika semua itu terpenuhi, maka komunikator dapat dengan mudah mempengaruhi lawan bicara. Sehingga peluang keberhasilan lobi dan negosiasi juga akan semakin tinggi. (*)
Penulis merupakan mahasiswi Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Andalas. Kontak penulis Nikenofianti@ymail.com

Tinggalkan Balasan