
Oleh:
Muhammad Nazri Janra
(Dosen Jurusan Biologi FMIPA
Universitas Andalas)
Cemburu merupakan salah satu bentuk ekspresi emosi dan biasanya merujuk pada pikiran atau perasaan terancam, takut, dan khawatir kehilangan sesuatu yang dihargai oleh orang lain, terutama merujuk pada hubungan antarmanusia. Perasaan cemburu ini telah ada semenjak manusia pertama kali ada.
Sejarah mencatat di dalam kitab suci beberapa agama mengenai kisah pembunuhan manusia untuk pertama kalinya. Pembunuhan Habil oleh Qabil (dalam versi Injil disebut sebagai Cain dan Abel) dilatarbelakangi oleh rasa cemburu. Saat Habil dijodohkan dengan Iklima yang cantik, sedangkan Qabil dengan Labuda yang berparas jelek. Rasa iri yang timbul membutakan mata Qabil. Walaupun sistem perjodohan kala itu telah diatur melalui wahyu Illahiah, Qabil tetap ngotot agar dia yang mendapatkan Iklima. Meski perselisihan tersebut ditengahi melalui kontestasi pengorbanan oleh kedua pihak yang dinilai langsung oleh Tuhan dan dimenangkan oleh Habil, tetapi Qabil tetap sulit menerima. Kita pun tahu bahwa Qabil akhirnya membunuh saudara kandungnya akibat rasa cemburu yang besar.
Di dunia modern sekarang, rasa cemburu dapat terjadi secara kolektif dan melibatkan banyak pihak. Contoh yang paling terkenal adalah perseteruan antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet yang kala itu masih utuh dalam perang dingin yang berlangsung cukup lama pasca-Perang Dunia II. Kedua negara adidaya tersebut berlomba-lomba saling mengungguli dalam berbagai hal. Termasuk siapa yang paling dulu mengirimkan manusia ke luar angkasa, siapa yang pertama kali menginjakkan kaki di bulan, siapa yang punya rudal paling canggih, dan banyak hal lainnya. Banyak cara yang terhitung di luar nalar dan perikemanusiaan dilakukan oleh kedua negara secara diam-diam atau terang-terangan untuk saling mengungguli lawannya.
Semuanya pada dasarnya hanya sepele: cemburu kalau pihak yang lain bisa lebih dulu dari diri kita sendiri.
Rasa cemburu ini harus diakui dapat muncul secara gampang, tetapi berkemungkinan mempunyai efek berantai yang dapat berujung pada beragam hal negatif.
Parahnya, cemburu juga dapat menyelinap di dalam ranah akademis. Di antara komunitas yang mengagungkan prinsip dan etika ilmiah sebagai landasan bergeraknya ini, rasa cemburu dapat dengan mudah muncul antarinstitusi ilmiah yang berbeda atau antara kolega dari lembaga yang sama. Bisa saja rasa cemburu itu muncul saat rekan sekerja meraih prestasi yang menonjol dan mendapatkan penghargaan atas prestasinya tersebut. Lebih jauh lagi, kecemburuan di ranah akademis bisa saja terjadi antara dosen dengan mahasiswa, antara guru dengan murid atau pihak-pihak lain yang terlibat dalam dunia akademis.
Salah satu perseteruan dunia akademis yang mungkin menjadi peristiwa amat dikenang adalah antara Nikola Tesla dengan Thomas Alfa Edison. Kedua-duanya adalah ilmuwan penemu berkebangsaan Amerika Serikat, di mana Tesla sebelumnya menjadi bawahan dari Edison yang ketika itu tengah mengembangkan perusahaannya. Kemudian karena banyaknya perbedaan dalam prinsip-prinsip ilmiah yang mereka anut, menyebabkan keduanya menjadi berseberangan.
Keduanya kemudian tercatat saling mengkritik kelemahan penemuan lawannya sembari menonjolkan apa yang menjadi hasil temuannya sendiri. Tidak jarang hal ini dibumbui dengan intrik-intrik yang melibatkan banyak pihak termasuk media massa. Puncak pertikaian ilmiah keduanya dikenang sebagai “War of the Currents” di mana Tesla yang mengusung paham arus bolak-balik (Alternating Current – AC) melawan paham Edison yang lebih mengutamakan arus searah (Direct Current – DC). Peristiwa ini sendiri kemudian diangkat menjadi sebuah film dengan judul yang sama “War of the Currents” dan menceritakan peristiwa yang kurang lebih didasarkan pada persaingan kedua belah pihak. Walaupun sebenarnya persaingan ini banyak pula menghasilkan penemuan-penemuan baru di bidang listrik (motor listrik, kursi listrik untuk hukuman mati dan sebagainya), tetapi tidak sedikit pula apa yang dilakukan oleh kedua pihak yang berseberangan ini terhitung sebagai persaingan yang tidak sehat.
Kita pun mungkin masih ingat dengan kasus kematian seorang mahasiswa tingkat akhir asal Indonesia yang berkuliah di salah satu universitas terkemuka di Singapura. Menurut kabar yang beredar, mahasiswa teknik informasi tersebut menemukan suatu inovasi teknologi revolusioner yang luar biasa untuk ukuran seorang mahasiswa, bahkan mungkin bisa melebihi temuan ilmiah yang sudah dihasilkan oleh para profesor di universitas tersebut.
Sewajarnya, capaian yang dihasilkan oleh mahasiswa tersebut mendapatkan apresiasi. Tetapi dari banyak berita yang beredar, temuan mahasiswa tersebut justru kemudian dituduh sebagai plagiasi dari penelitian orang lain. Hal inilah yang kemudian dijadikan sebagai alasan kematian dari mahasiswa tersebut yang diklaim melakukan bunuh diri karena frustasi ketahuan menjiplak penelitian orang lain. Tentu saja banyak pertanyaan yang belum terjawab seputar kasus ini, tetapi banyak pihak mengendus adanya kecemburuan pihak-pihak tertentu terhadap temuan ilmiah yang sedang dikerjakan mahasiswa tersebut.
Lepas dari benar tidaknya kasus di atas, kecemburuan di dunia akademis memang nyata adanya. Karena akademisi yang ada di dalam dunia akademis juga adalah manusia biasa. Tentunya segala sifat yang dimilikinya akan ikut menyertainya, termasuk rasa cemburu. Sikap yang bisa dilakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah mengelola sebaik mungkin cemburu serta bentuk perasaan tidak baik lainnya, terlebih bagi seorang akademisi yang terdidik secara mental dan psikis.
Rasa cemburu banyak dijadikan sebagai kajian di dunia psikologis dan banyak dikaitkan dengan fisiologis tubuh manusia. Di dunia sastra, banyak sastrawan yang menjadi kecemburuan antar manusia sebagai tema karya sastranya. Lantas bagaimana rasa cemburu di dunia akademis dapat diarahkan menjadi sesuatu yang positif?
Dalam kajian fisiologis, rasa cemburu sendiri merupakan tenaga endogen di dalam diri manusia yang mempunyai kapasitas besar untuk menggerakan fisik. Dalam taraf tertentu, rasa cemburu mampu menggenjot produksi hormon adrenalin, bahkan dari segi psikologis, rasa cemburu juga dapat memanipulasi pola pikir normal manusia sehingga seringkali dapat melakukan hal-hal di luar kebiasaannya. Dua aspek yang sebenarnya dapat bermanfaat banyak jika diarahkan untuk menjadi energi dalam bekerja untuk meneliti, menganalisis, dan mensintesis penelitian ilmiah. Baik bagi orang yang sedang mengalami rasa cemburu tersebut ataupun bagi orang lain yang bekerja sama dengannya.
Cemburu dengan prestasi yang dicapai kolega wajar saja akan muncul, terutama jika prestasi pribadi belum begitu menonjol. Jika diarahkan dengan baik, rasa cemburu yang muncul akan berguna dalam membakar tenaga untuk bekerja lebih banyak sehingga prestasi yang sama juga dapat diraih.
Sistem pendidikan yang berlaku di negara kita sebenarnya juga patut dipertanyakan. Sistem yang ada cenderung mendorong peserta didiknya untuk semata mencapai prestasi akademis. Akan tetapi, prinsip bahwa kenikmatan akademis yang tertinggi justru terdapat dalam proses untuk menggapai prestasi akademis itu sendiri. Hal itu yang jarang ditanamkan kepada peserta didik. Di negara-negara maju, sistem ranking saat penerimaan rapor siswa sudah lama ditiadakan. Yang dilaporkan kepada orang tua, justru perkembangan pola pikir, psikomotorik, minat, dan bakat yang ditunjukkan oleh siswa tersebut. Dari sana, sekolah dapat bekerja sama dengan orang tua siswa untuk mencarikan bidang yang tepat untuk ditempuh sang siswa.
Menjaga kejernihan pikiran saat sedang dilanda kecemburuan merupakan inti untuk menggerakkan tenaga endogen yang dihasilkan oleh rasa cemburu. Hindari pikiran negatif yang mungkin timbul akibat melihat prestasi akademis orang lain dengan mempelajari bagaimana orang tersebut dapat meraihnya. Membiarkan pikiran negatif bersarang di kepala cenderung mengarahkan manusia untuk mencari luaran yang negatif pula, seperti pikiran untuk menjatuhkan saingan akademis secara tidak sehat. Jika seorang akademisi tidak bisa melakukan kontrol cemburu secara mandiri, ia dapat meminta bantuan orang lain yang dipercaya untuk menjadi pengingat dalam mengendalikan perasaan tersebut.
Bahkan, kita lebih dianjurkan untuk berdiskusi secara langsung dengan orang yang dimaksud untuk bertukar pikiran mengenai kinerja yang telah dilakukannya. Harus diakui, kita cenderung terbiasa untuk hanya memperhatikan keberhasilan yang telah dicapai oleh seseorang, tetapi sering melupakan pengorbanan yang telah dilakukan orang tersebut untuk sampai pada pencapaiannya. Jadikan momen bertukar pikiran untuk belajar segala rintangan yang telah dilaluinya sehingga kita pun dapat siap sewaktu-waktu jika mendapatkan rintangan yang sama.
Halangan untuk memanfaatkan rasa cemburu ke arah yang positif dalam ranah akademis memang cukup besar, terutama di Indonesia. Prinsip senioritas yang masih berlaku di banyak tempat, kentalnya egoisme pribadi untuk bisa bekerja sama dengan pihak lain. Kurangnya kebiasaan menghargai pencapaian yang diraih orang lain, bahkan sampai kepada hal-hal yang terkait dengan unsur SARA dapat menjadi barrier penghalang dalam melihat pelajaran hidup ini secara jernih. Kemudian tenaga endogen yang kita bicarakan tadi menjadi lebih banyak terbuang untuk hal-hal yang tidak berguna. Alih-alih menjadi pendorong untuk bekerja dan meneliti dengan lebih giat.
Tidak ada pelatihan khusus untuk mengelola rasa cemburu di bidang akademis, seperti halnya pelatihan untuk menulis karangan ilmiah atau keterampilan lainnya. Ini hanya bisa muncul pada lingkungan akademis yang telah dikondisikan untuk terbiasa bersaing secara sehat dan saling dukung untuk kemajuan kolektif. Peranan institusi akademis untuk mempersiapkan perangkat yang dapat memandu anggota lembaganya untuk berkegiatan ilmiah secara baik (termasuk dalam menyikapi persaingan antaranggota) sangat diperlukan
Seandainya hal ini diterapkan secara mandiri oleh para akademisi atau secara institusional di Indonesia maka dapat dibayangkan betapa pesatnya potensi kemajuan ilmiah yang dapat diraih oleh negeri ini.

Tinggalkan Balasan