Mundhil Lulus Doktor di RUDN Rusia

Munadhil Abdul Muqsith Mahasiswa Indonesia Pertama Raih Doktor di RUDN

Mundhil Lulus Doktor di RUDN Rusia
Munadhil AM Mahasiswa Indonesia Lulus Doktor di RUDN Rusia. (Dok MAM).

Jakarta. Scientia – Di tengah konflik antara Rusia – Ukraina, Munadhil Abdul Muqsith salah satu mahasiswa Indonesia berhasil mempertahankann disertasinya di salah satu kampus besar Rusia, Peoples’ Friendship University of Russia (RUDN) University, Moscow dengan hasil voting tidak ada yang menolak. Munadhil merupakan lulusan pertama mahasiswa Indonesia di humanitarian and social sciences faculty dalam Bahasa Inggris.

Judul yang di presentasikan adalah Fake news as а modern media phenomenon: features of formation and functioning yang dibimbing oleh Professor Muzykant Valerii Leonidovich. “Fake news merupakan salah satu isu yang menjadi perhatian dunia saat ini. Overload informasi, revolusi teknologi serta perkembangan social media penyebab meningkatnya penyebaran false information,” kata Munadhil kepada Scientia.id.

Ia mengatakan, jumlah pengguna Internet di dunia menurut Survei We Are Social 2022 mencapai 4,95 Milyar dengan waktu penggunaan internet rata-rata 6 jam 58 menit. “Pertumbuhan ecosystem digital sangat eksponensial. Apa lagi sejak pandemic Covid-19 yang memaksa orang dirumah saja, di situ orang semakin banyak menerima atau menyebarkan berita bohong,” lanjutnya.

Dalam presentasinya, Munadhil menyimpulkan bahwa penyebaran berita palsu memiliki dampak besar pada masyarakat modern seluruh dunia dan juga Indonesia, terutama pada generasi muda, dan pengalaman Indonesia dalam memerangi penyebaran berita palsu berkontribusi pada studi lebih lanjut tentang dua cara untuk melawan infodemik dan pemulihan yang berkelanjutan.

Pada saat sidang dihadiri oleh 3 oponent dari beragam kampus yang memiliki kepakaran di tema yang sama, Professor Shesterina Alla Michailovna, Head of the Department of Television and Radio Journalism of the Federal State Budgetary Educational Institution of Higher Education “Voronezh State University”. Professor Ilchenko Sergey Nikolaevich, Professor of the Institute “Higher School of Journalism and Mass Communications”, Federal State Budgetary Educational Institution of Higher Education “St. Petersburg State University”. Professor Manoilo Andrey Viktorovich, Professor of the Department of Russian Politics, Faculty of Political Science, Federal State Budgetary Educational Institution of Higher Education ” Moscow State University named after M. V. Lomonosov.”. hadir juga Doktor Victor Sumsky direktur ASEAN Studies, MGIMO University.

Selama 4 tahun berkuliah S3 plus 1 tahun belajar bahasa Rusia, Munadhil berhasil memublikasikan lebih dari 40 artikel ilmiah di berbagai index jurnal dan konfrensi (3 Scopus, 7 Web of Science, 6 Sinta 2, 6 sinta 4, 1 sinta 5, 3 copernicus dan berbagai index lainnya).

Selain studi, ia juga aktif di organisasi dengan menjadi ketua ICMI MPW Federasi Rusia sejak 2020. Selain itu ia bersama rekan-rekan S3 di Rusia mendirikan pusat kajian Rusia dan Eropa timur bernama Eurasian Researcher Scholars (ERS) Institute. Ia didaulat sebagai direktur bidang kajian.

Selama kuliah Munadhil, mendapatkan banyak tantangan alam besar selama di Rusia mulai dari Pandemi Covid-19 lalu perang Rusia-Ukraina, “Masya Allah luar bisa sekali proses sampai bisa mendapatkan 2 ijazah ini. (Akancania Aspirantura dan Kandidat Nauk),” ujarnya.

Ia juga mengatakan selain tantangan alam juga, tantangan financial karena beasiswa pemerintah Rusia hanya berupa gratis biaya perkuliahan tapi living cost di tanggung sendiri. “Lebih berat lagi itu gimana bisa bertahan untuk kebutuhan sehari-hari dan lain-lain termasuk pengeluaran untuk publikasi dan berbagai dana lain seperti asuransi, makan sehari-hari transportasi,” keluh Munadhil.

Ia juga tinggal di asrama sekamar dengan 4 orang, “fasilitas asrama yang dikasih juga tidak kondusif sebenarnya untuk belajar, tapi terus berusaha dan berjuang sampai selesai,” tuturnya.

Munadhil yang juga Dosen FISIP UPN Jakarta ini berharap pemerintah Indonesia ikut mengelola secara G to G beasiswa yang di berikan pemerintah tiap tahunnya agar bisa turut andil mensuport secara financial, “Kedepan saya berharap pemerintah bisa hadir, kuota beasiswa tiap tahun besar 250 orang. Buat kita S3 butuh banyak kebutuhan dalam proses pendidikan termasuk dana penelitian dan dana untuk publikasi, besar sekali!” ujarnya. (*)

 


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *