Oleh:
Dr. Raimon Efendi, S.AB., M.Kom
Kepala Lembaga Pengembangan Inovasi dan Puskom Universitas Dharmas Indonesia
Pendidikan bukan hanya melahirkan lulusan yang terdidik dan kompeten dalam bidang keilmuan yang dipelajarinya, tetapi merupakan suatu proses untuk menciptakan lulusan yang siap bersaing sesuai bidang keilmuan dan karakter yang dimilikinya baik secara nasional maupun internasional. Merespon tantangan revolusi industri 4.0, lulusan pendidikan vokasi dituntut tidak cukup hanya mahir dan menguasai teknologi infromasi dan kompetensi bidang keilmuan yang digeluti, namun tidak kalah pentingnya diperlukan kompetensi baru yang dibutuhkan di era abad ke-21 yang disebut 4C (critical thinking, communication, collaboration dan creativity). Untuk mewujudkan hal tersebut maka diperlukan sebuah inovasi untuk memperbaiki proses pembelajaran yang mengasilkan lulusan dengan mutu yang berkualitas.
Peningkatan daya saing dan kualitas pendidikan sangat terkait dengan proses dari pendidikan itu sendiri. Pendidikan yang berkualitas bisa dilihat dari sisi proses, jika proses pembelajarannya berlangsung secara efektif dan inovatif serta mahasiswa mengalami proses pembelajaran yang bermakna, serta ditunjang oleh sumber daya manusia, sarana, prasarana yang memadai maka output yang dihasilkan mutunya akan tinggi. Proses pembelajaran yang berkualitas tentu akan menghasilkan lulusan yang juga berkualitas dan berkompeten dibidangnya. mutu lulusan bisa ditingkatkan melalui perbaikan proses pembelajaran yang berkualitas . Berdasarkan studi literature terhadap proses pembelajaran yang dilakukan, perbaikan proses pembelajaran bisa dilakukan salah satunya dengan pengembangan model pembelajaran yang inovatif dan berorientasi terhadap peningkatan kompetensi mahasiswa.
Pada penelitian ini model pembelajaran yang telah dikembangkan adalah model pembelajaran flipped classroom yang terdiri kombinasi teks, gambar dan video yang dibuat lebih menarik untuk menvisualisasi materi agar lebih dapat dipahami oleh siswa. Penggunaan model pembelajaran flipped classroom yang terintegrasi dengan internet dan video pembelajaran selama pembelajaran diharapkan mampu mengurangi kelemahan-kelemahan pada bahan ajar yang berupa media cetak, yaitu sifatnya yang interaktif memudahkan dalam navigasi yang menampilkan gambar, audio, video dan animasi. Flipped classroom merupakan suatu cara yang dapat diberikan oleh pendidik dengan meminimalkan jumlah instruksi langsung dalam praktek mengajar mereka sambil memaksimalkan interaksi satu sama lain.
Perubahan paradigma pembelajaran ini disesuaikan dengan ciri abad 21. Salah satu elemen kunci dari pembelajaran abad ke-21 adalah learning and innovation skills atau kecakapan pembelajaran dan inovasi, yaitu 4C, critical thinking, communication, collaboration, dan creativity. Kemampuan 4C ini berfokus pada kemampuan untuk menghadapi kehidupan yang semakin kompleks dan lingkungan kerja di abad ke-21.
Salah satu komponen dalam sistem pembelajaran adalah kondisi, dimana komponen ini di dalamnya mengenai pengalaman belajar dan model belajar mengajar atau model pembelajaran. Model pembelajaran dapat diartikan sebagai serangkaian satu kesatuan yang utuh antara pendekatan, strategi, metode dan teknik. yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Fungsi model pembelajaran adalah sebagai pedoman bagi perancang pengajar dan para dosen dalam melaksanakan pembelajaran. Disamping itu pula, setiap model pembelajaran juga mempunyai tahap-tahap (sintaks) yang dapat dilakukan siswa dengan bimbingan dosen. Jadi, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode dan teknik pembelajaran.
Berbagai macam teori yang berkaitan dengan gaya belajar, yang bertujuan untuk menjelaskan perbedaan setiap individu dalam pembelajaran. Beberapa ahli memberikan penjelasan tentang pengertian gaya belajar dari sudut yang berbeda, namun para ahli sepakat bahwa gaya belajar mempengaruhi siswa dalam memahami pelajaran.Para ahli merekomendasikan kepada para dosen agar menilai gaya belajar siswa mereka dan menyesuaikan media atau metode mengajar di kelas agar sesuai dengan gaya belajar siswa.
Literatur bidang ilmu pengetahuan telah mendorong dosen dan instruktur untuk menggunakan model pembelajaran yang membutuhkan keterlibatan siswa dalam pergeseran materi dari pasif menjadi aktif, dimana siswa secara fisik terlibat dalam kegiatan pembelajaran, membangun pengetahuan dan mahasiswa diwajibkan memiliki output baru yang melampaui informasi yang disajikan di kelas. Pembelajaran flipped classroom membentuk interaksi antara siswa dengan siswa maupun antar siswa dengan dosen untuk terlibat secara aktif dalam pemecahan masalah. Seorang dosen harus mengembangkan kemampuan profesionalnya dengan cara mengembangkan model dan media ajar yang sesuai dengan kondisi pembelajaran yang dihadapi. Termasuk pembuatan video dan media web yang sesuai dengan perkemabangan kondisi pendidikan saat ini.
Model pembelajaran berbasis flipped classroom mengutamakan kerjasama antar siswa, kegiatan percobaan untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam belajar. Pendekatan model pembelajaran berbasis flipped classroom efektif membantu siswa mempelajari materi, meningkatkan kemampuan memecahkan masalah secara mandiri. Kesimpulannya dengan menerapkan model pembelajaran berbasis flipped classroom siswa mampu berinteraksi secara intensif di kelas, sehingga terbentuk kemandirian belajar. Berdasarkan pendapat beberapa ahli yang telah meneliti model flipped classroom didapatkan bahwa Implementasi model flipped classroom mampu meningkatkan critical thingking pada pembelajaran mereka ketika mereka melihat video di rumah maupun saat pengorganisasian pembelajaran di kelas. Model pembelajaran berbasis flipped classroom ini mengutamakan interaksi dengan teman sebaya, melakukan diskusi kelompok, presentasi dan problem solving untuk mengintegrasikan kemampuan kognitif tingkat penerapan dan analisis. Penilaian komprehensif merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari flipped classroom, kegiatan ini meliputi penilaian proses pemahaman, proses penerapan dan menganalisis melalui kegiatan presentasi, laporan hasil belajar dan evaluasi diri. Penilaian model pembelajaran berbasis flipped classroom dilaksanakan dalam awal pembelajaran, selama proses pembelajaran dan akhir pembelajaran di kelas.
Model pembelajaran Flipped Classroom hadir karena perkembangan teknologi yang berpengaruh besar terhadap dunia pendidikan. Teknologi yang semakin canggih saat ini dapat menjadi suatu fasilitas belajar yang efektif bagi dosen dan siswa. pertama kali Flipped Classroom diperkenalkan, bahwa manfaat penggunaan perangkat multimedia seperti video yang diberikan kepada siswa sebelum pembelajaran di kelas agar siswa dapat menonton, memutar ulang ataupun mempercepat sesuai dengan kebutuhan masing-masing siswa. Flipped Classroom juga merupakan konsep yang berprinsip untuk menukarkan kegiatan-kegiatan di kelas seperti penjelasan-penjelasan dosen melalui presentasi di kelas, dengan kegiatan-kegiatan yang biasanya dilakukan diluar kelas seperti mengerjakan pekerjaan rumah.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian pengembangan (Reseach and Development ). Metode R & D penelitian dan pengembangan atau dalam bahasa Inggrisnya Research and Development adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu dan menguji keefektifan produk tersebut. Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pengembangan 4-D yang dikemukakan oleh Sivasailam Thiagarajan ,yang terdiri atas 4 tahap utama yaitu, Define , Design , Develop dan Disseminate .Tahapan dalam penelitian pengembangan ini terdiri dari:
Tahap Pendefinisian (Define) Pelaksanaan penelitian ini dimulai dengan tahap define. Tahap define bertujuan menentukan masalah dasar yang dibutuhkan dalam pengembangan model pembelajaran Flipped Classroom pada mata kuliah keamanan komputer. Analisis bisa dilakukan melalui penelitian pendahuluan. Tahap define dapat dilakukan dalam 5 kegiatan yaitu:observasi, analisis kurikulum, analisis buku panduan mahasiswa, analisis fasilitas dan media, serta analisis gaya belajar mahasiswa. 2. Tahap Perancangan (Design) pada tahap perancangan ini bertujuan untuk mempersiapkan prototype model pembelajaran, pada tahap ini terdiri dari beberapa langkah yakni; Penyusunan Standar Tes, pemilihan media, pemilihan format dan perancangan prototype. 3. Tahap Pengembangan (Develop) Setelah prototype selesai dirancang kemudian tahap pengembangan dilakukan. Tahap pengembangan memiliki tujuan untuk memperoleh hasil produk yang sudah valid, praktis dan efektif.

Tahapan pengembangan dibagi menjadi dua kegiatan yaitu: validasi media pembelajaran dan ujicoba pengembangan. 4. Tahap Penyebaran (Disseminate) Proses penyebaran produk merupakan tahap akhir pengembangan. Tahap ini dilakukan untuk mempromosikan produk yang dihasilkan agar bisa diterima oleh pengguna, baik individu, kelompok atau sistem. Penyebaran bisa dilakukan di kelas lain dengan tujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan perangkat dalam proses pembelajaran. Penyebaran bertujuan untuk mendapatkan masukan, koreksi, saran, penilaian, untuk menyempurnakan produk akhir pengembangan. Tahap penyebaran ini juga bisa dilakukan dengan online. Penelitian ini telah menghasilkam model flipped classroom, yang diterapkan pada kelas terbatas, diharapkan bisa diterapkan secara meluas pada pembelajaran mata kuliah Komputer lainnya serta pada mata kuliah yang mempunyai karakteristik yang sama. Kesimpulanya dari model yang dikembangkan tergolong model flipped classroom dengan seluruh komponen pendukungnya. Model yang dikembangkan juga tergolong praktis, sehingga dapat digunakan dalam pembelajaran. Sedangkan untuk capain akhir mahasiswa diterapkanya model flipped classroom ini meningkatnya HOTS mahasiswa.
Pengembangan model pembelajaran Flipped Classroom berbasis web ini adalah serangkaian proses atau kegiatan yang dilakukan untuk menghasilkan model pembelajaran Flipped Classroom berdasarkan teori pengembangan. Tujuan pengembangan model pembelajaran ini adalah agar mahasiswa dapat belajar terlebih dahulu di rumah sebelum kelas di mulai, dan model pembelajaran ini dapat dikaitkan pada pendekatan kekinian di pendidikan vokasi informatika, mahasiswa tak hanya bisa belajar melalui laptop ataupun PC di rumah tetapi siswa juga bisa belajar melalui smartphone yang mereka punya dimana punmereka berada selagi masih terjangkau oleh jaringan internet.
Pengembangan model pembelajaran ini berimplikasi pada dosen dan mahasiswa untuk mengubah pola pengajaran sesuai dengan kurikulum saat ini dan sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, yaitu pengajaran harus dapat dilaksanakan dengan semenarik mungkin yang salah satu unsurnya yaitu dengan berinovasi dari setiap sisi model, teknis dan media dalam pembelajarannya. Meningkatnya efektifitas belajar mahasiswa dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi untuk belajar secara mandiri, kreatif dan menyenangkan. Kapanpun dan dimanapun tanpa harus terbatas dengan ruang dan waktu. Memberikan kemudahan kepada mahasiswa dalam penuntasan kegiatan belajar mengajar baik itu diskusi maupun pengayaan yang tidak terbatas oleh jam pelajaran, sehingga dapat dilaksanakan kapanpun dimanapun.
Tinggalkan Balasan