PMII Wahid Hasyim Mujahadah dan Doa Keselamatan Bangsa

PMII Wahid Hasyim Mujahadah dan Doa Keselamatan Bangsa

PMII Wahid Hasyim Mujahadah dan Doa Keselamatan BangsaSemarang, Scientia – Pengurus Komisariat (PK) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas Wahid Hasyim Semarang, gelar mujahadah dan doa untuk keselamatan bangsa dari pandemi Covid-19 secara virtual. Hal ini karena kondisi Covid-19 yang semakin hari terus bertambah kasusnya dan adanya PPKM.

Ketua Umum PMII Komisariat Wahid Hasyim Semarang, Roshifah Jauhari dalam sambutannya mengungkapkan, adanya kegiatan ini merupakan wujud implementasi Nilai Dasar Pergerakan (NDP) kaitannya dalam meningkatkan kepedulian melalui hubungan antara manusia dengan manusia.

“Bersama pengurus bidang keagaamaan, kami mengadakan kegiatan ini untuk memberikan mujahadah dan doa bagi keselamatan bangsa dari wabah. Mudah-mudahan lewat mujahadah ini senantiasa mendapat keberkahan serta bisa menambah spirit keyakinan dalam menghadapi wabah, lebih berhati-hati agar bisa selamat dan sehat,” kata Roshifa, Minggu (11/7).

Mujahadah asmaul husna dipimpin oleh Sekretaris Pengurus Pusat Asosiasi Dosen Pergerakan, Nur Rois. Pembacaan doa oleh Pengasuh Pondok Pesantren Luhur Wahid Hasyim, KH. Muh Syaifudin serta Pembina majelis khidmah Asma Ul Husna Pusat, KH. Amdjad Al Hafidz diakhiri dengan tausyiah oleh Rektor Unwahas, KH. Mudzakir Ali.

Dalam tausyiahnya, Prof Mudzakir Ali menyampaikan bahwa Aswaja di kampus Unwahas merupakan Aswaja An-Nahdliyah. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak terlepas dari prinsip dasar yang menjadi ciri khas paham Aswaja An-Nahdliyah yaitu tawasuth, tawazun, ta’adul dan tasamuh.

“Kader-kader PMII dan alumni jangan sampai lepas dari prinsip ini. PMII harus bisa memegang teguh nilai pergerakan, baik struktural ataupun non struktural. NU tidak akan bisa eksis tanpa keterlibat PMII didalamnya,” jelas rektor.

Sedangkan Ketua Pengurus Pusat Asosiasi Dosen Pergerakan, Noor Harisudin menjelaskan, PMII harus mampu mengambil kesempatan dalam berbagai peran. Salah satunya dengan meningkatkan nasionalisme yang dibangun sebagai solidaritas dalam memberi empati dan solusi di tengah kondisi pandemi yang ada saat ini.

“Solidaritas di tengah pandemi harus senantiasa dibangun untuk menumbuhkan empati dan solusi, bukan mengeluarkan caci maki,” ujarnya.

Ia juga berpesan kepada kader PMII Unwahas harus mampu memiliki standar yang lebih tinggi agar bisa berperan dan bernilai baik di ranah sosial maupun intelektual.(Sfa)


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *