Rantai Tak Putus: Buku Nonfiksi tentang UMKM Terbaru Dee Lestari

Oleh: Ade Faulina

Judul Buku   : Rantai Tak Putus – Ilmu Mumpuni
Merawat UMKM Indonesia

Penulis         : Dee Lestari
Penyunting   : Dhewiberta Hardjono
Penerbit        : PT Bentang Pustaka
Tahun Terbit : Agustus 2020
Jumlah Hlm  : 209 hlm
Peresensi      : Ade Faulina

Rantai Tak Putus, demikian judul buku nonfiksi teranyar dari penulis Dee Lestari. Buku yang terbit pada Agustus 2020 lalu ini juga menjadi buku nonfiksi kedua yang dihasilkannya. Sebelumnya Dee Lestari telah menerbitkan Di Balik Tirai Aroma Karsa. Karya nonfiksi Rantai Tak Putus ini menjadi sesuatu yang istimewa bukan hanya karena mengenalkan kita ke sejumlah UMKM yang berada di bawah binaan Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) Yayasan Dharma Bakti Astra (YDBA). Akan tetapi ,juga penyajiannya yang jauh dari kesan buku profil UMKM atau kisah sukses ringkas yang biasa kita jumpai.

Buku ini di samping mengupas cerita perjalanan sejumlah UMKM di berbagai daerah tanah air, juga merangkum ilmu bisnis maupun rahasia sukses masing-masing UMKM secara padat, bernas dan mudah dipahami. Buku Rantai Tak Putus – Ilmu Mumpuni Merawat UMKM Indonesia ini tidak tampil sebagai buku yang terkesan menggurui, tapi ia hadir dengan muatan yang terasa unik dan berbeda.

Mulai dari tampilan cover yang lebih eye catching dan cukup komersil, gaya penulisan cerita yang memadukan unsur fiksi dan nonfiksi secara bersamaan. Kemudian beragam kutipan yang memantik pikiran kita (pembaca) untuk berevolusi sebagaimana yang terjadi pada para pelaku UMKM yang diwawancarai Dee Lestari. Terlebih dengan kapasitas Dee Lestari sebagai seorang penulis yang telah menghasilkan banyak karya maka buku ini sangat mampu untuk menjadi alternatif bacaan di masa pandemi ini.

Kisah-kisah yang disajikan di dalam buku terbitan Bentang Pustaka ini pun bukan hanya mengupas satu bidang usaha saja. Tetapi sangat beragam. Seperti manufaktur, metalurgi, otomotif/ perbengkelan maupun pertanian. Dari tokoh-tokoh seperti Agus Sholeh Kurnia, Mashudi, Pinuji, Mas Eko, Barjo, Junaedi, Ardiani, dan Djoko pembaca diberi kesempatan untuk belajar tentang banyak hal. Memulai usaha dari nol, mengembangkan dan merintis usaha dengan konsistensi dan determinasi tanpa batas serta motivasi untuk tetap berada di jalur cita-cita yang terkadang tidak selalu mulus.

Salah satu kisah yang cukup menggugah terdapat di bab 7, Tanah Istimewa. Bab ini mengisahkan bagaimana desa Hiyung yang mulanya tertinggal, berubah total ketika salah seorang warganya menyadari potensi unik tanah yang ada di Desa Hiyung, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan.

Suatu hari pada tahun 1993, seorang pemuda yang akrab dipanggil Barjo, pergi berkunjung ke desa tetangga, yakni Desa Miawa. Dari kaki gunung, ia membawa pulang beberapa pokok tanaman cabai rawit, lalu mencoba menanamnya di rumah. Tak ada penduduk Hiyung yang menanam cabai saat itu. Barjo sendiri tidak pernah membayangkan akan menanam cabai dalam jumlah banyak, hanya cukup untuk konsumsi dirinya dan keluarga.

Ketika cabai rawitnya berbuah, Barjo menyadari perbedaan antara cabai yang dipanennya dengan kebanyakan cabai rawit yang ia coba. Cabainya memang lebih kecil, tetapi dagingnya lebih tebal. Warnanya pun lebih cerah. Namun yang paling mengejutkan adalah tingkat kepedasannya yang melebihi cabai sejenis lainnya. Perbedaan mencolok inilah yang kemudian dikomunikasikan Barjo kepada teman-temannya yang serta merta ikut menanam cabai tersebut di rumah mereka masing-masing. Dan sama seperti Barjo, cabai yang mereka panen juga menghasilkan kualitas yang serupa.

Singkat kata, tidak membutuhkan waktu lama, para warga di desa Hiyung pun kemudian membudidayakan tanaman cabai di rumah maupun lahan yang mereka miliki masing-masing. Sehingga ekonomi pun kembali bergerak dan desa Hiyung dikenal sebagai penghasil cabai terpedas di Indonesia. Bahkan produk turunannya juga laris manis di pasaran. Namun apa penyebab cabai desa Hiyung menjadi sangat pedas, seperti apa dan bagaimana perubahan yang terjadi di desa tersebut? Maka pembaca akan menemukan jawabannya di dalam buku Rantai Tak Putus yang terdiri dari 11 bab ini.

Buku ini pada dasarnya akan sangat bermanfaat apabila dibaca oleh pelaku UMKM, generasi muda yang ingin mengembangkan kemampuan di bidang wirausaha, akademisi atau siapapun yang tertarik mengenal lebih jauh dunia UMKM. Seperti dikutip dari Didiet Maulana, Desainer Busana IKAT Indonesia dan Edukator Wirausaha, “Format buku ini sungguh unik dalma menyampaikan perspektif ilmu wirausaha, menarik untuk disimak, inspiratif untuk diterapkan. Maka akan sangat sayang apabila pembaca buku melewatkan karya Dee Lestari yang satu ini. (*)

(Padang, 25/1/2021)


Posted

in

by

Tags:

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *