![Sekda Asahan saat mrmbuka kegiatan program 1000 hari masa kehidupan. [foto : Scientia/ Hans]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2021/04/58ab388f-308f-44b7-a996-66833d698b5e.jpg)
“Stunting merupakan permasalahan gizi kronis akibat kurangnya asupan gizi dalam waktu lama atau kronis, terjadi sejak bayi dalam kandungan karena saat hamil sang Ibu kurang mengkonsumsi makanan bergizi,” ujar John saat membuka kegiatan Advokasi Kepada pemangku Kebijakan Daerah di Aula Kantor Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana (P2KBP3A). Rabu (7/4).
Persoalan stunting, kata John, disebabkan oleh faktor multi dimensi intervensi yang paling menentukan untuk dapat mengurangi pervalensi stunting. Makanya, perlu dilakukan pada 1000 hari pertama kehidupan dari anak Balita. Terutama memastikan pemenuhan gizi Ibu dan bayi selama masa kehamilan hingga anak menginjak usia 2 tahun.
“Jika tidak terpenuhi, maka anak akan mengalami malnutrisi,” sebut John.
Menurutnya, pencegahan dan penanggulangan stunting melalui program 1000 hari pertama kehidupan, dapat berjalan dengan baik dan sukses, apabila semua pihak terkait memberikan kontribusi sesuai tugas pokok dan fungsinya ditingkatan wilayah kerjanya.
“Kita berharap tujuan menyiapkan generasi emas melalui program 1000 hari pertama kehidupan diharapkan berdampak baik bagi anak-anak Asahan hingga dewasa nantinya menjadi sehat, cerdas dan kuat,” pungkas John. (Hans)
![Sekda Asahan saat mrmbuka kegiatan program 1000 hari masa kehidupan. [foto : Scientia/ Hans]](https://datalama.scientia.id/wp-content/uploads/2021/04/58ab388f-308f-44b7-a996-66833d698b5e.jpg)
Tinggalkan Balasan