![Mahasiswa Baru menggunakan pakaian tradisional yang menggambarkan Budaya Surau Minangkabau. [foto : ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2023/09/FB_IMG_1693546787975-300x178.jpg)
Bagi Maba laki – laki mengenakan baju putih dan celana batik dengan atribut mengalungkan kain sarung di leher serta mengunakan peci berwarna hitam (peci nasional). Sedangkan bagi maba perempuan menggunakan baju kurung basiba dan tingkuluak di bagian kepala.
Rektor, Prof. Dr. Marjoni Imamora mengatakan, konsep pakaian tersebut merupakan ciri khas bagi anak – anak muda di Minangkabau yang menuntut ilmu di surau. Hal ini sejalan dengan tagline UIN Mahmud Yunus Batusangkar “Kampus Sains Islam, Refleksi Surau Minangkabau”.
“Kita perlu kenalkan kembali kepada mahasiswa sebagai anak muda yang menuntut ilmu, bahwa dulu itu masyarakat Minangkabau berguru di Surau. Mereka menggunakan pakaian yang sopan dan berciri khas kebudayaan Minangkabau,” ujar Marjoni.
Menurut Marjoni, pada saat ini modifikasi modern barat dalam berpakaian telah menjadi tren bagi anak – anak muda. Mereka tidak lagi menghiraukan identitas lokal yang mesti dijaga dan dilestarikan.
“Pakaian merupakan salah satu gambaran mengenai identitas sesorang. Sebab, pakaian yang digunakan menjadi fokus penilian orang lain terhadap dirinya. Apalagi itu juga mencerminkan nilai – nilai moral yang dimiliki,” katanya.
Oleh karena itu, kata Marjoni, perlu kembali kita perhatikan bahwa cerminan diri seseorang dilihat dari pakaian yang digunakan. Seseorang yang memiliki moral pasti menjaga dirinya dari pandangan buruk orang lain dan berusaha menampilkan figuran yang baik juga, salah satunya melalui pakaian.
“Begitu juga sebagai mahasiswa yang berada wilayah Minangkabau, tentu mesti mengetahui ciri khas dan kebudayan Minangkabau,” tutupnya. (YRP)
![Mahasiswa Baru menggunakan pakaian tradisional yang menggambarkan Budaya Surau Minangkabau. [foto : ist]](https://datalama.scientia.id/wp-content/uploads/2023/09/FB_IMG_1693546787975.jpg)
Tinggalkan Balasan