![Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah memaparkan rencana pengembangan kerjasama dengan Arab Saudi untuk membentuk Sumbar sebagai gerbang haji dan umrah Indonesia di hadapan pembimbing manasik haji dan umroh mandiri dan profesional di Hotel Rangkayo Basa, Padang, Sabtu (6/3). [Foto: Dok/DiskominfoSB]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2021/03/WhatsApp-Image-2021-03-06-at-15.59.49.jpeg)
Sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Sumbar, daerah ini bertekad menjadi pintu gerbang Indonesia melakukan ibadah Haji dan Umroh. Bandara Internasional Minangkabau (BIM) rencanaya akan didapuk sebagai akses langsung menuju Kota Jeddah.
“Karena waktu terpendek yaitu melalui BIM menuju Jeddah. Untuk itu KBIH Sumbar yang ada di perwakilan bisa memfasilitasi itu,” ujar Mahyeldi dalam acara penyerahan sertifikat pembimbing manasik Haji dan Umroh Mandiri dan Profesional di Hotel Rangkayo Basa, Padang, Sabtu (6/3).
Untuk mendukung wacana itu, Mahyeldi akan mengupayakan agar setiap jamaah yang berangkat dari BIM diberikan rendang, makanan khas Sumatera Barat.
“Kita akan memberikan bekal oleh-oleh rendang kepada siapa saja yang berangkat dari BIM. Randang merupakan kuliner khas Sumatera Barat yang bergizi tinggi dan tahan lama, cocok dibawa umrah dan haji ke Mekkah,” papar Mahyeldi.
Sumbar Risiko Rendah Covid-19
Pandemi Covid-19 yang sempat mengganggu perjalanan haji dan umrah menjadi perhatian khusus Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Mahyeldi mengatakan, dengan perkembangan saat ini Sumbar merupakan salah satu daerah risiko rendah penularan Covid-19 berpeluang mengembangkan embarkasi haji yang lebih baik.
“Alhamdulillah Sumbar termasuk daerah aman dari Covid-19, karena kita bertahan pada zona kuning di Indonesia selama tiga bulan ini,” kata Mahyeldi yang akrab disapa Buya ini.
Ia berharap Sumbar bisa lebih meningkatkan penanganan Covid-19, yang dikenal dengan kongsi Covid-19, nagari tageh dan kampung tangguh. Inilah konsep-konsep cara menangani Covid-19 disetiap daerah terkecil di Kabupaten Kota Sumatera Barat, yang mana penanganan itu lebih di persempit lagi ditingkat nagari, dan RW.
“Sehingga jika ada yang positif, penanganan lebih terkoordinir cepat,” ucapnya. (pzv)
Tinggalkan Balasan