![foto bersama pada kegiatan Pra Kongres Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) di Balai Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh. Selasa, (30/3). [foto : ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2021/04/323b3f44-9562-4312-8178-f9d909016bf3.jpg)
Menurutnya, tempat itu adalah warisan yang merupakan ciri khas bagi kota tersebut. Hanya saja, perlu dibuat pola dan sejarah tertulis, sehingga dapat diusulkan ke Unesco. Selain itu ada kesenian daerah yang telah dipatenkan Unesco, seperti tari piring.
“Ini harus dipertahankan, bila perlu dibuatkan pola dan sejarah tertulisnya,” ujar Marfendi kepada Wartawan di rumah dinasnya. Jum,at (2/4)
Sementara itu, pada kesempatan lawatan seminar mendatang akan mengikutsertakan Dinas Pendidikan, Bidang Kebudayaan, Dinas Pariwisata, Dinas Perpustakaan termasuk bidang Kearsipan. “Tujuan diikutsertakan instansi tersebut di atas agar mengklasifikasikan apa saja yang bisa dijadikan heritage, termasuk berupa fisik dan non fisik,” ucapnya. (aef)
![foto bersama pada kegiatan Pra Kongres Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) di Balai Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh. Selasa, (30/3). [foto : ist]](https://datalama.scientia.id/wp-content/uploads/2021/04/323b3f44-9562-4312-8178-f9d909016bf3.jpg)
Tinggalkan Balasan