Tag: #Ragdi F. Daye

  • Puisi-puisi Afriyanti Imam Al Amir dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

    Puisi-puisi Afriyanti Imam Al Amir dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

    Igau Perempuan Gaza Negeriku kian berdarah tanahku tak kuat lagi menahan pilu menyaksikan mereka yang asyik dengan tumpukan asap jahanam itu mereka bangga, Bunda tapi ragaku menangisi mereka airku menyesali mereka berhari-hari kukumpulkan garis demi garis untuk membentuk satu lukisan tentang generasiku namun kanvas terlalu suram, Bunda berbungkus kafan putih bernama Gaza aku ingin bercerita banyak,…

  • Puisi-puisi Fadil Ahmadhia Warman dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

    Puisi-puisi Fadil Ahmadhia Warman dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

    Orang dalam Bingkai Jendela Saat ini nampak ia sedang memakai hutan, dan menyematkan rawa di saku celana. Kali ini dia mengumpulkan samudera, dan menyelimuti bahu dengan merpati putih di jalanan kota. “Ini di mana? Jam berapa?” Di bingkai jendela yang kusam, ia rajut waktu. Ia berharap hilir akan mengalir ke hulu, menunggu jam pasir kembali biru.…

  • Puisi-puisi Fatta Adiba Arif dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

    Puisi-puisi Fatta Adiba Arif dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

    Gagak dan Merpati Hei, lihatkah kau di sana! Di antara cecabang hitam beku  musim dingin Seekor gagak dan seekor merpati bertengger di dahan yang sama Watak dan rupa mereka berbeda Cobalah terka sedang beretorikakah mereka Sampai mana kau bisa terbang saat ini? Sudah ke mana sajakah dirimu berkelana? Pernahkah kau disentak badai? Atau sayapmu pernah patah dan terjatuh menghempas tanah?…

  • Puisi-puisi Fury Buhair dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

    Puisi-puisi Fury Buhair dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

    Kau, Bertanya Malam [?] Malam: Pelabuhan, kelopak matamu adalah malam bukan? gelap dan penuh air mata kesunyian pintalan rahasia kau jalin ia dengan jari-jari yang mengusap Malam: Kesedihan, seberapa basah pun wajah teguh itu sesendu Selat Sunda dengan hamparan luka? kau tak hirau… tak ‘kan ada bibir dingin yang mempersoalkan Malam: Hitam, tak perlu repot membalut…

  • Puisi-puisi Djoe HT Bagindo dan Ulasannya oleh Ragdi F.Daye

    Puisi-puisi Djoe HT Bagindo dan Ulasannya oleh Ragdi F.Daye

    Memagut Kenangan Semua  ini tak pernah sampai padamu yang terlanjur pergi pamitmu tak kembali masih tersisa aroma pagi di matamu dan aku ingin melihatnya kembali Di pantai belakang rumah kita hanya ada bayangmu Angin terasa tak sejuk lagi, begitu juga laut dan gelombang, dan senja dengan lembayungnya Tak sempurna  tanpa jejakmu Siluet dengan pesonanya yang  abadi…

  • Puisi-puisi Surya Hafizh dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

    Puisi-puisi Surya Hafizh dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

    Telaga dan Surau Tua aku tak hendak jadi suara menjadi kerikil jatuh yang kau lempar ke telaga mengusik bias bayang surau tua aku tak hendak mendengarmu menyusun suara parau mengungkit-ungkit kaji lama aku tak hendak menjadi aroma tubuh yang memikat: malam dan segenap setan memperalati waktu, membuatmu ketakutan menunggu kabut diam-diam meminjam wajahmu —diam-diam hendak menjadimu mengulurkan…

  • Puisi-puisi Dara Puspa Mulyana dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

    Puisi-puisi Dara Puspa Mulyana dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

    [vc_row][vc_column][vc_column_text] Sebuah Ketulusan Aku terlahir dari hatimu yang paling suci Pancaran matamu menjagaku untuk tetap merasa tenang Tanganmu merangkulku dengan kebijaksanaan Kata-katamu mendidikku dengan kearifan Ayah, Tak terbilang segala jerihmu Di pagi buta Kau hadang sang lentera dengan kerja keras Di keelokan senja Kau ajak aku berdialog perihal mimpi-mimpi Di malam sepi Kau peluk kegelapan…

  • Cerpen “Ketika Uni Lia Pergi” Karya Ali Usman dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

    Cerpen “Ketika Uni Lia Pergi” Karya Ali Usman dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

    Cerpen: Ali Usman Angin Bukik Cubadak menyapu dingin bulu romaku. Daun-daun pohon duku berjatuhan menangis terlepas dari tangkainya. Suara gemericik air cucian Uni Lia mengikuti irama angin. Sisa gemericik air itu juga menemani jatuhan dedaunan pohon di depan rumah. Amak bergegas mandi ketika Uni Lia masih asyik menyuci pakaian. “Maan… Lakeh lah…! Pai ndak samo…

  • Puisi-puisi Elsaradam dan Ulasannya Oleh Ragdi F. Daye 

    Puisi-puisi Elsaradam dan Ulasannya Oleh Ragdi F. Daye 

    Tuah Hujan tiada henti membasahi bumi Inikah yang dinamakan kota hujan? Sampai-sampai mentari tiada berwujud Berganti gumpalan awan gelap Berhias petir dan gemuruh angin Ke manakah tuahmu kota hujan? Enggankah engkau memelukku Membiarkanku menggigil di trotoar jalan Sudah habiskah sapaan lembutmu Hilangkah dentingan dawai kehangatanmu Maaf, hari ini tiada tuah untukmu Lubuk Lintah, 03 Desember…

  • Puisi-puisi M. Adioska dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

    Puisi-puisi M. Adioska dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

    Sinamar Di sinilah aku sekarang, menghanyutkan belulang sendiri dalam aliran sunyi yang datang dari hulu Sementara rindu yang terkemas malam hanyut sejauh nanar, telah bertemukah ia dengan muara dan memadu kasih dengan laut? Riak yang keruh, selalu saja setia menggerus bibir-bibir tebing pasi bersedekap demi anak-anak nasib yang menggembalakan kerbau, sapi dan kambing di atasnya. Aih, lihatlah,…